Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Misa Mandarin di Gereja Maria De Fatima Glodok

Tentry Yudvi , Jurnalis-Minggu, 12 Februari 2017 |11:16 WIB
Kisah Misa Mandarin di Gereja Maria De Fatima Glodok
Gereja Maria De Fatima, Glodok (foto: Tentry Yudvi/Okezone)
A
A
A

Kemudian misa berbahasa Mandarin semakin banyak diikuti di tahun 1955, di mana kala itu Chao Min memberikan Liturgi di hari Minggu dan hari besar lainnya. Pelayanan Liturgi tersebut juga menghadirkan partisipan dari 50 pelajar di asrama RICCI Youth Centre.

Namun, di tahun 1961 sejak yayasan diambil ahli, setelah Pater Cheng pindah ke Taiwan,asrama tidak lagi menerima siswa. Alhasil jumlah masa umat semakin menyurut bahkan mencapai angka enam di tahun 1962.

Pater Leitenbauer kemudian mendirikan sebuah perkumpulan Santa Maria De Fatimah di tahun 1966, yang bertujuan untuk membantu paroki dalam menyebarkan agama dan sifat kasih terhadap Tuhan tanpa memandang latar belakang paroki. Namun, kegiatan hanya berlangsung hingga tahun 1978, dikarenakan di tahun 1959 tak ada lagi anak yang memahami bahasa Mandarin karena pemerintah melarang adanya bahasa Mandarin.

Namun, sekarang aktivitas gereja sudah berjalan seperti biasa, dan gedung bangunan juga sudah dipatenkan pemerintah DKI Jakarta agar tetap melestarikan cagar budaya. Tak hanya gedung yang sudah berusia lama, di area depan ada sebuah patung bunda Maria berwarna biru yang sudah ada sejak dibangunnya gereja, lonceng di pelataran pun menemani bangunan gereja ini.

(Fiddy Anggriawan )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement