Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Misa Mandarin di Gereja Maria De Fatima Glodok

Tentry Yudvi , Jurnalis-Minggu, 12 Februari 2017 |11:16 WIB
Kisah Misa Mandarin di Gereja Maria De Fatima Glodok
Gereja Maria De Fatima, Glodok (foto: Tentry Yudvi/Okezone)
A
A
A

DI kawasan Glodok tepatnya Jalan Kemenangan III, ada sebuah gereja tua bernuansa Tiongkok bernama Gereja Maria de Fatima yang melegenda sejak jaman penjajahan.

Dari bagian depan tampak atap khas bangunan tua Tiongkok karena atap melengkung dan lancip atau biasa disebut dengan atap ekor walet. Sudah, pasti dulunya gereja ini dimiliki oleh pejabat kaya saat itu.

Pintu merah memberikan suasana Tiongkok semakin terasa, dan ketika membuka lebar pintu bangunan yang sudah didirikan sejak tahun 1850, suasana seperti di negeri China juga terasa dari altar yang bada di tengah.

Tempat altar terlihat sangat kokoh sekali, dengan adanya emas yang melapisi kayu berwarna merah. Kemudian, di belakang altar terdapat tempat penyembahan nenek moyang leluhur, ada sebuah kotak kecil yang juga dihiasi emas.

Kemudian di bagian kiri altar ada sebuah ruangan kecil dengan patung Yesus, sedangkan sebelah kanan ada patung Bunda Maria. Keduanya masih terlihat mulus, dan rapih meskipun sangat tua sekali.

Berbicara soal sejarah, dulu sejak didirikannya gereja diberi nama gereja Toesebio kemudian berubah menjadi gereja Maria de Fatima. Tanah gereja saat itu dibeli oleh Pater Wilhemlmus Krause van Eeden yang digunakan untuk membangun gereja, asrama dan sekolah khusus untuk Hoakiauw atau China Perantauan.

Di tahun 1954, misa pertama menggunakan bahas Indonesia diadakan yang menarik sekitar 20 orang umat untuk beribadah. Kemudian, di minggu berikutnya ada misa khusus bahasa Mandarin yang membuat pengikutnya semakin banyak. Sampai suatu saat, pengelola gereja mendatangkan tokoh agama terkemuka Pater Joannes Tcheng Chao Min Sj yang sedang bertugas di Spanyol.

Kemudian misa berbahasa Mandarin semakin banyak diikuti di tahun 1955, di mana kala itu Chao Min memberikan Liturgi di hari Minggu dan hari besar lainnya. Pelayanan Liturgi tersebut juga menghadirkan partisipan dari 50 pelajar di asrama RICCI Youth Centre.

Namun, di tahun 1961 sejak yayasan diambil ahli, setelah Pater Cheng pindah ke Taiwan,asrama tidak lagi menerima siswa. Alhasil jumlah masa umat semakin menyurut bahkan mencapai angka enam di tahun 1962.

Pater Leitenbauer kemudian mendirikan sebuah perkumpulan Santa Maria De Fatimah di tahun 1966, yang bertujuan untuk membantu paroki dalam menyebarkan agama dan sifat kasih terhadap Tuhan tanpa memandang latar belakang paroki. Namun, kegiatan hanya berlangsung hingga tahun 1978, dikarenakan di tahun 1959 tak ada lagi anak yang memahami bahasa Mandarin karena pemerintah melarang adanya bahasa Mandarin.

Namun, sekarang aktivitas gereja sudah berjalan seperti biasa, dan gedung bangunan juga sudah dipatenkan pemerintah DKI Jakarta agar tetap melestarikan cagar budaya. Tak hanya gedung yang sudah berusia lama, di area depan ada sebuah patung bunda Maria berwarna biru yang sudah ada sejak dibangunnya gereja, lonceng di pelataran pun menemani bangunan gereja ini.

(Fiddy Anggriawan )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement