MASYARAKAT Tiongkok di zaman penjajahan Belanda memiliki peran penting untuk menyejahterakan perekonomian di Indonesia khususnya Batavia. Banyak tokoh pejuang Tionghoa yang terkenal karena kekayaannya termasuk keluarga Souw.
Peninggalan keluarga Souw bisa dilihat ketika Anda memasuki kawasan Perniagaan, Glodok. Ada sebuah rumah tua dengan atap khas dengan ukiran Tiongkok, yang pada bagian atas batu bata ada ornamen berbentuk lancip.
Pada bagian luar, pagar sudah berkarat dan cat rumah sudah usang. Kini, digunakan untuk lahan parkir para preman di sana.
Bagian atap rumah begitu menarik karena sekarang sudah jarang rumah yang memiliki atap melengkung dan lancip itu. Ternyata, di budaya Tionghoa dulu, rumah seperti itu menandakan jika pemilik rumah merupakan orang kaya raya, dan juga dipandang oleh masyarakat.
Benar saja, jika melihat sejarahnya, rumah tua usang tersebut merupakan milik keluarga kaya raya dari keluarga Souw, dan sepasang adik kakak, Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng merupakan sosok legenda di masyarakat Tionghoa saat masa penjajahan.
Souw Siauw Tjong kakak dari Souw Siauw Keng, dulunya terkenal sebagai orang paling dermawan, dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak bumiputra di tanahnya. Tak hanya itu, di tahun 1875, ia menyumbang dana ke kelenteng Boen Tek Bio untuk melakukan pemugaran, ini juga terjadi di Kelenteng Kim Tek Le di tahun 1890.