Namun demikian, Astrid tidak menampik, bahwa di Indonesia sendiri hidangan seperti itu ada dan bahkan sudah menjadi salah satu kearifan lokal, contohnya adalah ulat sagu. Banyak sekali masyarakat pedalaman yang mengonsumsi ulat tersebut dalam keadaan hidup-hidup.
"Dari segi regulasi, saya belum tahu apakah pemerintah Indonesia melarang praktek penyajian hidangan menggunakan hewan hidup. Tetapi, di beberapa daerah menyantap hewan dalam keadaan hidup itu sudah menjadi salah satu kearifan lokal mereka," jelasnya.
Saat ditanya mengenai perbedaan hidangan tersebut dengan hidangan yang diproses secara tepat, Astrid mengungkapkan bahwa perbedaannya memang cukup mencolok.
"Jujur aku belum pernah mencicipi makanan seperti ini. Tetapi secara logika, tentunya urat nadi hewan-hewan tersebut masih berfungsi ketika disantap. Urat nadi inilah yang akan menciptakan sensasi rasa unik ketika dimakan. Kesegaran dan teksturnya pun pasti masih terjaga jika dibandingkan dengan hidangan yang diolah melalui proses perebusan dan semacamnya," pungkas Astrid.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.