Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengolah Makanan dari Hewan Hidup, Apakah Dibenarkan dalam Dunia Kuliner?

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Kamis, 24 November 2016 |11:49 WIB
Mengolah Makanan dari Hewan Hidup, Apakah Dibenarkan dalam Dunia Kuliner?
Mengolah makanan dari hewan yang masih hidup (Foto:Google)
A
A
A

MENYANTAP makanan dengan bahan baku hewan yang masih hidup atau diolah langsung dalam kondisi masih hidup yang belakangan marak akhirnya menuai protes. Apakah rasanya benar-benar nikmat atau sekadar mencari sensasi, nyatanya tradisi kuliner ini dianggap sebagai penyiksaan.

Industri kuliner internasional baru-baru ini dikejutkan oleh kampanye yang dilakukan oleh organisasi PETA. Organisasi pembela hak hewan terbesar di dunia ini menentang sejumlah restoran di beberapa negara, yang diketahui menyajikan hidangan yang diolah dari hewan yang masih hidup atau bahkan disantap ketika hewan itu masih hidup.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu restoran di New York, Amerika Serikat. Restoran ini menyuguhkan lobster dan gurita yang diolah saat hewan masih hidup. Sehingga ketika menyantapnya, pelanggan masih bisa melihat bagaimana anggota badan hewan tersebut menggeliat.

Soal itu, Chef Astrid Enricka berpendapat dalam dunia kuliner, cara mengolah makanan dari bahan baku hewan yang masih hidup sangat tidak etis dilakukan. Apalagi menggunakan jenis hewan yang memiliki tingkat kecerdasan dan emosi yang tunggi.

"Kalau buat saya sendiri agak sulit untuk menerimanya. Apalagi banyak hidangan yang menggunakan hewan-hewan dengan tingkat kecerdasan tinggi seperti gurita. Hewan ini juga memiliki emosi yang dapat dilihat secara kasat mata. Mereka bisa menunjukkan rasa sakit ketika dipotong," tutur Astrid, saat dihubungi Okezone melalui telepon, Rabu 23 November 2016.

Namun demikian, Astrid tidak menampik, bahwa di Indonesia sendiri hidangan seperti itu ada dan bahkan sudah menjadi salah satu kearifan lokal, contohnya adalah ulat sagu. Banyak sekali masyarakat pedalaman yang mengonsumsi ulat tersebut dalam keadaan hidup-hidup.

"Dari segi regulasi, saya belum tahu apakah pemerintah Indonesia melarang praktek penyajian hidangan menggunakan hewan hidup. Tetapi, di beberapa daerah menyantap hewan dalam keadaan hidup itu sudah menjadi salah satu kearifan lokal mereka," jelasnya.

Saat ditanya mengenai perbedaan hidangan tersebut dengan hidangan yang diproses secara tepat, Astrid mengungkapkan bahwa perbedaannya memang cukup mencolok.

"Jujur aku belum pernah mencicipi makanan seperti ini. Tetapi secara logika, tentunya urat nadi hewan-hewan tersebut masih berfungsi ketika disantap. Urat nadi inilah yang akan menciptakan sensasi rasa unik ketika dimakan. Kesegaran dan teksturnya pun pasti masih terjaga jika dibandingkan dengan hidangan yang diolah melalui proses perebusan dan semacamnya," pungkas Astrid.

(Santi Andriani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement