Bastianich mengatakan, ia mengenal tiramisu sejak masa kecilnya di Istria, semenanjung terbesar di Laut Adriatik. Adalah neneknya yang gemar membuat sajian tersebut sebagai bekal sekolah atau sebagai hantaran untuk kerabat yang sedang sakit atau jika anggota keluarga ada yang baru melahirkan.
"Dia menyebutnya 'tira me su' dalam dialek Venetian," kata Bastianich. Kata ini pun yang hingga kini dikenal.
Bastianich mengenang, saat membuat tiramisu adalah rangkaian kegiatan yang menyenangkan dan penuh memori indah bagi dirinya dan anggota keluarga lainnya. Untuk membuat makanan penutup ini, neneknya akan menyuruhnya ke kandang ayam untuk mengumpulkan telur ayam. "Saya ingat betul telur yang masih hangat," katanya. Lalu neneknya akan memisahkan kuning telur ke dalam mangkuk dengan gula untuk membuat zabaglione, custard yang agak encer. Saat itu ia tidak menggunakan campuran anggur atau jenis minuman keras lainnya, seperti yang sering dilakukan saat ini.
(Homecookingadventure)
"Dia akan mengunci mangkuk di antara lututnya dan mengocok dengan penuh semangat," kenang Bastianich. Lalu neneknya akan menyendok zabaglione dalam mangkuk, menuangkan sedikit espresso, kemudian mengambil roti kering atau cookies sebagai celupan.
Misteri tiramisu terkubur bersama 'sang guru' tiramisu
Menurut Burros, tiramisu pada masa kecil Bastianich adalah satu dari sekian banyak adaptasi hidangan penutup ini. Varian ini banyak tersedia di restoran pada pertengahan '80-an.