Masyarakat percaya bahwa batu tersebut adalah tempat pertama raja putri meletakkan kakinya di Tanah Wolio (Buton). Namun, kaki sang raja putri pernah terjepit di tempat itu. Untuk melepaskan diri, raja putri menarik pohon yang berdaun seperti payung di dekatnya. Setelah selamat, ia pun membuat janji di sana.
“Batu Popaua kemudian dijadikan batu untuk pengambilan sumpah. Prosesinya hampir sama dengan yang dialami Raja Putri Waa Kaa Kaa, dilakukan dengan memasukkan kaki kiri dan kaki kanan calon pemimpin Buton satu per satu sambil diputarkan payung oleh Sio Limbona atau sembilan menteri yang punya hak untuk menyumpah setelah dilantik di Batu Peropah,” terangnya.
Dalam prosesnya, calon raja atau sultan harus menghadap kiblat dan diputarkan paying khusus ketika sumpah diambil. Dilanjutkan, La Ode Vatiq, sumpah harus dipatuhi baik oleh penyumpah dan yang disumpah. Ketika sumpah dilanggar, tujuh keturunan akan mendapat kutukan.
Sumpah untuk pengambilan gelar, menurut La Ode Vatiq, kira-kira berbunyi, “Semua unsur yang ada (air, tanah, kayu, api) di Buton adalah milikmu dan harus digunakan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan bersama”. Baru setelah itu dibilang, “Kamu La Ode”. La Ode adalah gelar batin kepemimpinan yang didapat setelah sifatnya diamati sejak kecil.
“Proses ini bisa dikaitkan dengan batu yang berbentuk seperti alat kelamin wanita. Jadi, calon sultan atau raja ibarat baru lahir dari seorang rahim wanita setelah disumpah,” simpul La Ode Vatiq, sambil menambahkan bahwa sumpah tersebut akan batal ketika raja atau sultan melakukan kesalahan atau maksiat.