Penelitian yang telah dipublikasikan oleh Journal of Sexual Medicine pada Januari 2010 ini dilakukan terhadap 1.804 wanita kembar yang berusia antara 22-83 tahun.
Dalam penelitian ini, para peneliti yang dipimpin oleh Andrea Burri, MSc tidak melakukan pemeriksaan fisik terhadap wanita-wanita tersebut dalam mencari G-spot, namun mereka hanya diberikan pertanyaan mengenai keberadaan G-spot pada diri mereka.
Jika G-spot benar-benar ada, maka diharapkan pasangan kembar identik akan memberikan jawaban yang sama mengenai keberadaan G-spot dalam diri mereka karena pasangan kembar identik akan berbagi gen yang sama.
Dari penelitian tersebut didapatkan 56 persen responden mengatakan bahwa dirinya memiliki G-spot. Namun, tidak terdapat kaitan genetik diantara mereka yang percaya bahwa dirinya memiliki G-spot. Faktor lingkungan atau psikologis lebih berkontribusi dalam menentukan kepercayaan seseorang bahwa dirinya mempunyai G-spot.
Setiap Wanita Memiliki “G-Spot” Berbeda-beda
Menurut para peneliti, hal ini mungkin terjadi karena sebenarnya G-spot tidak ada, baik secara fisik maupun fisiologis. Burri menyimpulkan bahwa G-spot hanyalah opini subyektif wanita saja.