Menurutnya, makanan anjing bertekstur kering, lebih berpasir, dan rasanya agak asam. Layaknya makanan kaleng biasa, namun lebih hambar, dan sedikit berbau alumunium. Dia merasa, baru mengunyah sebentar, rahangnya sudah lelah menyantap makanan ini.
"Saat saya buka kemasannya, persis seperti makanan kaleng, tapi rasanya hambar, dan berbau aluminium. Saat saya perhatikan, ternyata ada tulisan bahwa makanan tersebut bukan untuk manusia. Saya pun segera berkonsultasi dengan seorang ahli gizi di New York University," tutur Anne.
Karena takut terjadi apa-apa, Anne memutuskan untuk beralih ke makanan anjing beku. Menurutnya, tekstur dan bentuk makanan beku seperti sosis. Bukan hanya itu, dia juga sempat mencoba beberapa produk makanan anjing lainnya.
Enam hari usai menjalani diet makanan anjing, bobot Anne turun sebanyak 1 kg. Kadar gula darahnya pun lebih rendah, dibarengi dengan tubuh yang dirasa Anne lebih berenergi.
"Saya ingin kembali mengonsumsi makanan manusia. Kita lihat saja nanti. Yang pasti, saya sadar kata ahli gizi, bahwa makanan anjing hanya didesain untuk anjing," tutup Anne. (yac)
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.