Denada mengaku membutuhkan waktu riset yang sangat panjang sebelum akhirnya mantap terbang ke Turki. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tindakan BBL termasuk salah satu prosedur bedah kecantikan dengan risiko medis yang cukup tinggi.
"Ini sebenarnya aku risetnya lama banget, riset yang amat panjang sekali. Pertama, karena BBL ini adalah prosedur yang risikonya sangat amat tinggi. Dan kalau untuk daerah pinggul dan bokong, salah satu yang paling berpengalaman adalah Turki dan Dubai,” jelas Denada.
“Aku memutuskan di Turki dengan dr. Furkan, karena aku punya beberapa teman yang sudah pernah melakukan prosedur yang sama dengan beliau, jadi aku udah pernah lihat hasilnya," lanjutnya.
Meski bukan pengalaman perdana, Denada menegaskan bahwa masa pemulihan (recovery) BBL kali ini adalah yang paling berat dan penuh tantangan.
"Jujur ya, ini adalah prosedur operasi plastik yang paling tidak nyaman dibandingin hidung, dibandingin breast augmentation, dibandingin facelift. Karena recovery-nya panjang,” ucap Denada.
“Sampai sekarang selama dua bulan aku gak boleh tidur telentang, gak boleh duduk selama dua bulan, aku harus pakai korset terus. Tapi kalau dibilang nyesel, enggak, karena aku happy dengan hasilnya," pungkasnya.
(Djanti Virantika)