KEBIASAAN mengucek atau mengorek hidung saat terasa gatal mungkin terlihat sepele dan sering dianggap angin lalu. Padahal, tindakan refleks ini menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan, mulai dari memicu mimisan berulang hingga risiko mengubah bentuk anatomi hidung.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menjelaskan penyebabnya. Dia mengatakan bahwa di dalam rongga hidung terdapat area yang sangat sensitif dan rentan mengalami trauma fisik.
“Siapa yang suka gosok-gosok hidung karena gatal? Hati-hati, bahayanya bukan cuma mimisan doang. Jadi kalau kamu punya kebiasaan gosok, ngucek, ngorek karena gatal, itu kelihatannya sepele. Padahal, ada area di hidung yang sangat mudah berdarah dan sensitif,” ujar dr. Aditya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Area sensitif yang dimaksud adalah Pleksus Kiesselbach, yakni kumpulan pembuluh darah kecil yang terletak di bagian depan sekat hidung (septum). Pembuluh darah di area ini berada sangat dekat dengan permukaan kulit dalam hidung, sehingga sangat rawan lecet atau pecah.
“Kenapa? Karena pembuluh darahnya ini dangkal, tipis, dan gampang lecet, ibaratnya gampang rusaklah. Jadi saat hidung kalian itu ngerasa kering, alergi, sering pilek, terus kamu gosok, colok, lapisan dalam hidung itu bisa retak, iritasi, lalu pecahlah pembuluh darahnya,” tutur dia.
dr. Aditya menambahkan, dorongan mekanis dari kuku atau gesekan keras saat mengorek hidung yang gatal tidak hanya memicu perdarahan biasa. Pada kondisi tertentu, tindakan tersebut dapat memicu terbentuknya septal hematoma atau penumpukan darah di area sekat hidung.
Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, kondisi ini berisiko mengganggu pasokan darah ke tulang rawan hidung, memicu infeksi, hingga memicu perubahan bentuk fisik hidung.
“Terus pada sebagian orang, apalagi kalau kukunya yang tajam dan ada trauma yang lebih keras, itu bisa muncul septal hematoma, yaitu darah terkumpul di sekitar hidung atau di sekat hidung. Dan yang bahayanya, kalau ini dibiarin, aliran darah ke tulang rawan septum itu bisa terganggu. Lalu jaringannya ini bisa rusak, terinfeksi, bahkan menyebabkan bentuk hidung itu bisa berubah,” jelas dr. Aditya.
Lebih lanjut, dr. Aditya menuturkan bahwa rasa gatal pada hidung sejatinya bukan sekadar tanda adanya kotoran, melainkan indikasi dari mukosa yang kering, reaksi alergi, atau peradangan. Kebiasaan menggosok hidung justru memperburuk kondisi karena menciptakan siklus berulang: gatal, digosok, timbul luka, iritasi memburuk, lalu menjadi makin gatal.
Masyarakat kerap mengaitkan mimisan dengan tekanan darah tinggi atau demam. Padahal, pada anak-anak dan usia dewasa muda, trauma kecil yang berulang seperti mengucek, mengorek, atau mengembuskan napas terlalu kuat saat pilek justru menjadi penyumbang utama kasus mimisan.