JAKARTA - Belakangan ini, blue matcha cukup menarik perhatian karena warnanya yang biru cerah. Minuman ini bahkan kerap dianggap sebagai jenis matcha dengan warna yang berbeda dari matcha hijau.
Namun, anggapan tersebut ternyata kurang tepat. Blue matcha sebenarnya bukan matcha dan tidak berasal dari tanaman teh. Sebenarnya, bubuk blue matcha berasal dari bunga telang atau butterfly pea (Clitoria ternatea).
Warna biru pada blue matcha berasal dari pigmen alami yang terdapat pada bunga telang. Bunga tersebut kemudian diolah menjadi ekstrak atau bubuk yang memiliki tampilan mirip dengan bubuk matcha.
Bunga telang sendiri sudah digunakan selama berabad-abad di Thailand sebagai pewarna makanan alami. Ekstraknya dapat digunakan untuk memberikan warna pada makanan penutup, sedangkan bunga yang dikeringkan bisa diseduh menjadi minuman.
Warna biru cerah pada bunga telang berasal dari antosianin. Salah satu keunikannya adalah warna tersebut dapat berubah tergantung tingkat keasaman. Misalnya, ketika air bunga telang diberi perasan lemon yang bersifat asam, warnanya dapat berubah menjadi ungu. Efek perubahan warna inilah yang membuatnya semakin populer sebagai bahan minuman dan makanan.
Meski sama-sama memiliki kandungan antioksidan seperti polifenol, blue matcha dan matcha hijau berasal dari tanaman yang berbeda. Matcha hijau dibuat dari daun tanaman teh yang digiling hingga menjadi bubuk. Sementara itu, blue matcha berasal dari bunga telang.
Perbedaan lainnya terletak pada kandungan kafein. Blue matcha tidak mengandung kafein, sedangkan matcha hijau secara alami mengandung kafein.
Blue matcha juga larut dalam air. Berbeda dengan matcha hijau yang sebenarnya merupakan bubuk daun teh, sehingga tidak benar-benar larut dalam air.
Secara sederhana, perbedaannya bisa dilihat sebagai berikut:
Blue matcha: berasal dari bunga telang, berwarna biru, mengandung antosianin, bebas kafein, dan larut dalam air.
Matcha hijau: berasal dari daun teh, berwarna hijau, mengandung katekin, memiliki kafein, dan berupa bubuk daun yang tidak benar-benar larut dalam air.
(Agustina Wulandari )