APAKAH kamu pernah merasa sudah lama mengincar sesuatu, lalu akhirnya membelinya? Tapi, bukannya merasa senang usai self-reward, kamu malah kepikiran apakah sebenarnya perlu atau tidak. Perasaan ini seringnya dialami perempuan.
Kalau pernah, kamu tidak sendirian. Dilansir dari Times of India, rasa bersalah setelah mengeluarkan uang untuk diri sendiri atau self-reward ternyata tidak selalu hanya soal harga barang atau kondisi keuangan.
Seseorang mungkin sebenarnya mampu membeli barang yang diinginkan. Namun, tetap saja muncul pertanyaan seperti, “Uang ini sebaiknya dipakai untuk apa?” atau “Apa aku benar-benar membutuhkan ini?”.
Barang yang dibeli pun tidak harus mahal. Bisa berupa baju, makan di restoran, pergi ke salon, liburan, atau sekadar membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan. Penelitian mengenai sikap terhadap uang dan perilaku konsumen menunjukkan bahwa perasaan saat menggunakan uang dapat dipengaruhi oleh keyakinan tentang uang, kebiasaan mengatur keuangan, pengalaman keluarga, hingga tuntutan sosial.
Bagi sebagian perempuan, uang juga bisa berkaitan erat dengan tanggung jawab keluarga. Mereka mungkin terbiasa mendahulukan kebutuhan anak, pasangan, orang tua, atau kebutuhan rumah tangga.
Akibatnya, membeli sesuatu untuk diri sendiri bisa terasa seperti hal yang tidak terlalu penting. Bahkan ketika sebenarnya uang tersebut masih aman untuk digunakan.
Kebiasaan seperti ini juga dapat terbentuk sejak kecil. Cara keluarga mengajarkan dan menggunakan uang dapat memengaruhi bagaimana seseorang melihat serta mengambil keputusan soal keuangan ketika sudah dewasa.