JAKARTA - Kuliner Indonesia punya potensi menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Bukan sekadar makanan yang dicari wisatawan saat berkunjung ke suatu daerah.
Lewat Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026, Kementerian Pariwisata ingin memperkenalkan lebih luas kekayaan gastronomi Indonesia, mulai dari restoran kontemporer hingga tempat makan lokal yang masih mempertahankan tradisi kuliner daerah.
Tahun ini, WIG mengusung tema “From Local Roots to Global Recognition” dengan Solo dan Yogyakarta sebagai pusat rangkaian utama. Program tersebut berlangsung pada 26 September hingga 4 Oktober 2026 dan diperluas ke sejumlah kota hingga akhir tahun.
Salah satu yang menarik adalah peluncuran dua panduan gastronomi, yakni Indonesia Gourmet Guide dan Indonesia Local Eateries Guide.
Masing-masing panduan memuat 150 pilihan. Indonesia Gourmet Guide menghadirkan 150 restoran dari berbagai wilayah Indonesia, sedangkan Indonesia Local Eateries Guide memperkenalkan 150 tempat makan lokal. Artinya, ada 300 restoran dan tempat makan yang diperkenalkan sebagai bagian dari wajah gastronomi Indonesia kepada wisatawan.
Kementerian Pariwisata melihat gastronomi bukan hanya soal rasa makanan. Cara makanan disiapkan, disajikan hingga dinikmati juga dianggap membawa cerita mengenai tradisi, identitas dan kehidupan masyarakat di suatu daerah.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, kedua panduan tersebut dibuat untuk membantu wisatawan melihat luasnya pengalaman gastronomi di Indonesia.
“Melalui dua panduan ini, kami ingin semakin memudahkan wisatawan menemukan luasnya spektrum gastronomi Indonesia, dari restoran kontemporer hingga tempat makan lokal yang mempertahankan tradisi dari generasi ke generasi,” kata Widiyanti dalam keterangan resminya.
Konsep yang dibawa WIG 2026 tak berhenti pada memperkenalkan daftar makanan atau restoran. Gastronomi ingin ditempatkan sebagai salah satu alasan seseorang memilih sebuah destinasi.
Solo dan Yogyakarta menjadi pusat penyelenggaraan tahun ini karena keduanya memiliki hubungan erat dengan tradisi dan kebudayaan Jawa. Di kedua kota tersebut, tradisi keraton, pasar, warung, kerajinan hingga kreativitas kontemporer hidup berdampingan dengan masyarakat.
Makanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem tersebut. Menurut Widiyanti, kekuatan gastronomi Indonesia tidak hanya terletak pada cita rasa.
“Cara makanan disiapkan, disajikan, dibagikan, dan diterima membawa memori, tata nilai, identitas, serta rasa keterikatan terhadap suatu tempat,” ujarnya.
Karena itu, pengalaman mencicipi makanan di sebuah daerah diharapkan bisa sekaligus membawa wisatawan mengenal cerita, sejarah, tradisi dan masyarakat yang membentuknya.
Dorongan untuk membawa gastronomi Indonesia ke tingkat global juga datang ketika perkembangan kuliner Tanah Air mulai mendapat perhatian internasional. di mana Indonesia memperoleh New Destination Champion Award 2026 dari La Liste, institusi gastronomi internasional asal Prancis.
Sementara dalam Asia’s 50 Best Restaurants 2026, dua restoran Indonesia tercatat mengalami peningkatan posisi. August naik dari peringkat 49 menjadi 42, sedangkan Locavore NXT naik dari peringkat 92 menjadi 44.
Kementerian Pariwisata menilai perkembangan tersebut menunjukkan semakin terbukanya peluang bagi chef, pemilik restoran, produsen dan pelaku industri gastronomi Indonesia untuk membangun jejaring di tingkat internasional.
Pengakuan internasional juga diharapkan bisa membuka peluang baru, mulai dari pasar, kemitraan dan investasi hingga kunjungan wisatawan yang memang menjadikan pengalaman kuliner sebagai bagian penting dari perjalanan.
Pada akhirnya, Kementerian Pariwisata ingin kuliner Indonesia tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dinikmati di meja makan. Gastronomi diharapkan bisa menjadi alasan wisatawan datang ke suatu daerah.
Untuk mengenal budaya dan masyarakatnya, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku kuliner dan daerah tempat tradisi tersebut tumbuh.
“Kami ingin menjadikan gastronomi sebagai alasan untuk melakukan perjalanan, mengubah pengakuan menjadi peluang, dan memastikan ketika gastronomi Indonesia menjangkau dunia, manfaatnya kembali kepada masyarakat dan tempat di mana semuanya bermula,” kata Widiyanti.
(Agustina Wulandari )