“Kenaikan volume orang yang mengakses crisis helpline tidak boleh otomatis kita terjemahkan sebagai peningkatan keinginan bunuh diri,” tegas Annelia.
Menurutnya, meningkatnya penggunaan layanan krisis juga dapat menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh bantuan, sekaligus menandakan semakin terbukanya akses terhadap layanan kesehatan mental.
“Hal ini bisa mencerminkan kombinasi bahwa memang ada kebutuhan untuk dibantu saat krisis, peningkatan awareness, peningkatan akses yang selama ini tidak ada menjadi ada dan bisa diakses dengan mudah. Dan dengan sistem bantuannya yang anonim, kemungkinan besar ini stigmanya sudah menurun,” pungkas dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)