“Positifnya layanannya digunakan, gitu kan? Tapi sedihnya, kok tambah banyak nih yang menghubungi. Jadi ya senang campur sedih, tapi moga-moga nggak naik terus karena kalau naik terus kita susah tuh untuk nyari konselornya,” tutur Imran.
Keterbatasan tenaga pendamping turut memengaruhi kemampuan tim dalam menangani permohonan yang masuk. Psikolog Klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Annelia Sari Sani, menyebut sebagian besar pengakses belum dapat dilayani karena kapasitas sumber daya manusia (SDM) masih terbatas.
“Dari hampir 200.000 pengakses, sayangnya saat ini kami baru bisa melayani atau menanggapi sekitar 15.979 penelepon dan pengakses melalui WhatsApp. Dari 15.979 itu saja, itu ada 3.036 atau sekitar 19 persen pengakses yang teridentifikasi memiliki pikiran mengakhiri hidup,” ujar Annelia.
Ia menjelaskan, dalam satu shift hanya terdapat sekitar lima psikolog. Sementara itu, durasi konsultasi setiap pengakses dibatasi hingga 30 menit untuk menyesuaikan dengan panjangnya antrean.
“Akses untuk Healing 119 itu satu pasien kita batasi 30 menit. Kenapa? Karena antriannya panjang sekali. Dalam satu shift psikolognya mungkin paling cuman lima orang, satu shift itu tiga jam, yang mengakses satu shift itu bisa 500-600 orang,” ungkap dia.
Untuk menangani tingginya jumlah pengakses, Healing119.id menggunakan sistem triase. Sistem tersebut digunakan untuk memilah pengakses berdasarkan tingkat kegawatdaruratan.