Selain itu, detail seperti ruffle, roset, dan renda membutuhkan proses pengerjaan yang tidak sederhana. Dalam dunia fashion yang semakin cepat dan dipenuhi produk massal, detail yang dibuat dengan penuh perhatian memberikan kesan bahwa pakaian bukan sekadar barang konsumsi, tetapi juga sebuah karya.
Media sosial juga punya peran besar dalam berkembangnya gaya whimsy. Di platform seperti media sosial, pakaian bukan hanya digunakan untuk menunjukkan apa yang dikenakan, tetapi juga untuk membangun karakter dan suasana tertentu.
Seorang stylist dan kreator konten, Grace Lim, melihat bahwa fesyen di media sosial semakin mirip dengan kegiatan bercerita. Seseorang tidak sekadar membagikan pakaian, tetapi juga menciptakan suasana, karakter, atau dunia visual melalui penampilannya.
Karena itu, seseorang bisa berganti-ganti gaya sesuai suasana hati. Hari ini mungkin tampil dengan gaya romantis, besok menggunakan estetika berbeda.
Bagi Gen Z, pakaian bahkan dapat digunakan seperti avatar di dunia digital. Mereka bisa mencampurkan nostalgia, budaya internet, dan berbagai dunia imajinatif untuk membentuk identitas visual yang berbeda-beda.