Kasus Influenza A pada Anak Meningkat, Kapan Harus Dibawa ke Rumah Sakit?

Djanti Virantika, Jurnalis
Kamis 17 September 2026 16:05 WIB
Anak flu. (Foto: Freepik)
Share :

KASUS influenza A merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan yang mudah menular. Kini, kasus tersebut pun tengah mengalami peningkatan terhadap anak-anak.

Di Surabaya, misalnya, sejumlah rumah sakit melaporkan meningkatnya pasien dengan keluhan yang mengarah pada influenza. Direktur Utama RS Husada Utama Surabaya menyebut ruang perawatan anak dan instalasi gawat darurat di rumah sakit tersebut sempat penuh dalam sepekan terakhir, dengan mayoritas pasien merupakan anak-anak. 

Lantas, muncul pertanyaan soal kapan sebaiknya anak harus dibawa ke rumah sakit saat alami flu, termasuk influenza A? Pasalnya, ternyata anak yang terinfeksi influenza A tidak selalu harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Anak umumnya masih dapat dirawat di rumah apabila kondisinya relatif baik. Orangtua dapat melihat apakah anak masih aktif, mau bermain, makan dan minum, serta masih mampu berinteraksi dan berkomunikasi seperti biasa.

Kondisi pernapasan juga menjadi salah satu indikator penting. Selama napas anak tidak cepat dan tidak terlihat tarikan pada dinding dada ketika bernapas, orang tua dapat melakukan pemantauan di rumah.

“Jadi karena tadi ini sangat menular. Sebagian apalagi kalau sudah divaksin, gejalanya tidak akan seberat kalau dia belum divaksin, maka tentu tidak semuanya harus dirawat di rumah sakit,” ujar dr. Yogi.

“Saat ini saja rumah sakit banyak yang penuh ya. Susah kita mencari ruang perawatan. Tapi kapan masih boleh dirawat di rumah? Tentu kalau anaknya masih aktif, masih mau main. Masih mau makan, minum gitu ya. Kemudian napasnya tuh enggak cepat. Enggak ada tarikan dinding dada. Masih bisa berinteraksi, komunikasinya oke. Apalagi kalau pas demamnya turun,” lanjutnya.

2. Waspadai Sesak dan Napas Cepat

Salah satu tanda bahaya utama pada influenza A adalah gangguan pernapasan. Orangtua perlu memperhatikan apakah anak bernapas lebih cepat dari biasanya atau tampak mengalami sesak.

Untuk melihat adanya penggunaan otot bantu napas, pakaian anak dapat dibuka. Dengan begitu, gerakan dada dan perut terlihat lebih jelas.

Tarikan dinding dada dapat terlihat di sela-sela iga maupun pada area antara dada dan perut ketika anak bernapas. Jika gangguan pernapasan semakin berat dan kadar oksigen menurun, bibir atau bagian dalam mulut anak dapat terlihat kebiruan. Kondisi ini merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.

“Nah, tapi juga harus hati-hati. Orangtua yang paling penting adalah memantau tanda bahaya. Apa saja itu? Pertama karena dia menyerangnya saluran pernapasan, tentu tanda ini adalah tanda sesak ya.  Napasnya cepat,” jelas dr. Yogi.

“Kemudian kalau pas napasnya cepat itu, kita coba buka bajunya dan kita lihat apakah ada penggunaan otot bantu napas. Jadi secara kasat mata kita akan melihat ada tarikan nih. Misalnya di sela-sela iga atau antara dada dengan perut ya. Kalau bisa, kalau misalnya sampai mengalami sesak dan kadar oksigennya turun, akan kelihatan bibirnya itu atau bagian businya kelihatan kebiruan,” lanjutnya.

 

3. Anak Tidak Mau Minum Bisa Mengalami Dehidrasi

Selain pernapasan, dr. Yogi juga ingatkan orangtua untuk memastikan anak mendapatkan cukup cairan saat terkena influenza A. Influenza dapat disertai keluhan seperti tidak nafsu makan, tidak mau minum, muntah, atau diare. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi.

Salah satu hal yang mudah dipantau di rumah adalah frekuensi buang air kecil. Jika anak yang biasanya sering buang air kecil tiba-tiba jarang buang air kecil, popoknya tetap kering selama beberapa jam, atau urine terlihat lebih pekat, orang tua perlu mewaspadai dehidrasi. Jika muncul tanda dehidrasi, anak sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Perjalanan demam juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Jika demam berlangsung lebih dari tiga hari, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan medis, terutama jika kondisi anak justru memburuk.

Demam yang mulai turun tetapi anak tampak semakin lemas juga perlu diwaspadai. Begitu pula apabila demam sempat membaik kemudian kembali tinggi.

Hal tersebut penting karena tidak semua demam pada anak disebabkan oleh influenza. Di Indonesia, terdapat berbagai penyakit infeksi lain yang juga dapat menyebabkan demam, termasuk infeksi seperti dengue. Karena itu, perubahan pola demam perlu diperhatikan dan tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai bagian dari influenza.

“Kemudian tadi, kadang-kadang anak enggak mau makan minum atau ada gejala saluran cemak, seperti muntah atau diare, sehingga tanda-tanda dehidrasi itu penting. Salah satu yang paling objektif adalah buang air kecil. Jadi anak kecil kan biasanya buang air kecilnya sering ya,” tutur dr. Yogi.

“Nah kalau udah lebih dari 4 jam kok pempersnya kering, pun pada saat kita cek ada tapi warnanya pekat, maka ini sudah dehidrasi nih. Ini harus segera dibawa ke rumah sakit. Dan juga pola demam. Ingat Indonesia ini memang banyak penyakit tropical infection kita bilangnya ya,” sambungnya.

“Kan bukan cuma influenza. Ada penyakit lain seperti Dengue gitu. Sehingga kalau demamnya sudah lebih dari 3 hari, kemudian demamnya turun tapi malah tampak lemas atau demamnya sempat perbaikan, setelah itu mulai demam tinggi lagi, maka sebaiknya kita segera bawa ke rumah sakit,” jelasnya.

4. Bayi dan Anak dengan Penyakit Tertentu Perlu Lebih Waspada

dr. Yogi mengatakan kelompok usia dan kondisi kesehatan tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi. Bayi, terutama yang berusia di bawah enam bulan dan khususnya bayi di bawah tiga bulan, perlu mendapatkan perhatian lebih ketika mengalami gejala infeksi.

Anak dengan gangguan sistem imun juga perlu segera diperiksakan. Contohnya adalah anak dengan HIV atau anak yang mendapatkan pengobatan steroid dalam jangka panjang. Anak dengan penyakit jantung bawaan juga termasuk kelompok yang membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Selain itu, apabila anak diketahui memiliki kontak erat dengan anggota keluarga yang mengalami influenza A, orang tua perlu melakukan pemantauan lebih ketat terhadap munculnya gejala.

“Kalau anak dengan risiko dengan gangguan sistem imun, Misalnya anak-anak dengan HIV, anak-anak yang mendapat pengobatan steroid jangka panjang, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan, maka itu harus segera dibawa ke rumah sakit ya,” tutur dr. Yogi.

“Karena pada prinsipnya, karena ini adalah penyakit self-limiting, maka yang penting tuh istirahat, hidrasinya cukup, kemudian obat-obatan untuk menyamankan,” lanjutnya.

“Dan tadi ada kelompok usia tertentu seperti bayi, terutama bayi-bayi di bawah 6 bulan, bahkan di bawah 3 bulan, atau lansia. Maka kita harus segera periksakan. Apalagi kalau sudah jelas terpapar dengan anggota rumah yang mengalami influenza A. Jadi kuncinya yang kita pantau itu napasnya, asupannya, kesadarannya, sama buang air kecilnya,” jelasnya.

Perawatan di rumah pada dasarnya berfokus pada istirahat yang cukup, menjaga asupan cairan, serta memberikan obat-obatan untuk membantu meredakan gejala sesuai anjuran tenaga kesehatan. Namun, orang tua tetap harus memperhatikan tanda-tanda bahaya. Kondisi anak dapat memburuk sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis segera.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya