KASUS influenza A merupakan salah satu infeksi saluran pernapasan yang mudah menular. Kini, kasus tersebut pun tengah mengalami peningkatan terhadap anak-anak.
Di Surabaya, misalnya, sejumlah rumah sakit melaporkan meningkatnya pasien dengan keluhan yang mengarah pada influenza. Direktur Utama RS Husada Utama Surabaya menyebut ruang perawatan anak dan instalasi gawat darurat di rumah sakit tersebut sempat penuh dalam sepekan terakhir, dengan mayoritas pasien merupakan anak-anak.
Lantas, muncul pertanyaan soal kapan sebaiknya anak harus dibawa ke rumah sakit saat alami flu, termasuk influenza A? Pasalnya, ternyata anak yang terinfeksi influenza A tidak selalu harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Anak umumnya masih dapat dirawat di rumah apabila kondisinya relatif baik. Orangtua dapat melihat apakah anak masih aktif, mau bermain, makan dan minum, serta masih mampu berinteraksi dan berkomunikasi seperti biasa.
Kondisi pernapasan juga menjadi salah satu indikator penting. Selama napas anak tidak cepat dan tidak terlihat tarikan pada dinding dada ketika bernapas, orang tua dapat melakukan pemantauan di rumah.
“Jadi karena tadi ini sangat menular. Sebagian apalagi kalau sudah divaksin, gejalanya tidak akan seberat kalau dia belum divaksin, maka tentu tidak semuanya harus dirawat di rumah sakit,” ujar dr. Yogi.
“Saat ini saja rumah sakit banyak yang penuh ya. Susah kita mencari ruang perawatan. Tapi kapan masih boleh dirawat di rumah? Tentu kalau anaknya masih aktif, masih mau main. Masih mau makan, minum gitu ya. Kemudian napasnya tuh enggak cepat. Enggak ada tarikan dinding dada. Masih bisa berinteraksi, komunikasinya oke. Apalagi kalau pas demamnya turun,” lanjutnya.
Salah satu tanda bahaya utama pada influenza A adalah gangguan pernapasan. Orangtua perlu memperhatikan apakah anak bernapas lebih cepat dari biasanya atau tampak mengalami sesak.
Untuk melihat adanya penggunaan otot bantu napas, pakaian anak dapat dibuka. Dengan begitu, gerakan dada dan perut terlihat lebih jelas.
Tarikan dinding dada dapat terlihat di sela-sela iga maupun pada area antara dada dan perut ketika anak bernapas. Jika gangguan pernapasan semakin berat dan kadar oksigen menurun, bibir atau bagian dalam mulut anak dapat terlihat kebiruan. Kondisi ini merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.
“Nah, tapi juga harus hati-hati. Orangtua yang paling penting adalah memantau tanda bahaya. Apa saja itu? Pertama karena dia menyerangnya saluran pernapasan, tentu tanda ini adalah tanda sesak ya. Napasnya cepat,” jelas dr. Yogi.
“Kemudian kalau pas napasnya cepat itu, kita coba buka bajunya dan kita lihat apakah ada penggunaan otot bantu napas. Jadi secara kasat mata kita akan melihat ada tarikan nih. Misalnya di sela-sela iga atau antara dada dengan perut ya. Kalau bisa, kalau misalnya sampai mengalami sesak dan kadar oksigennya turun, akan kelihatan bibirnya itu atau bagian businya kelihatan kebiruan,” lanjutnya.