PAPARAN abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya perlu diwaspadai karena dapat mengganggu saluran pernapasan. Kulit juga menjadi bagian tubuh yang berpotensi terkena dampak ketika seseorang berada di lingkungan yang dipenuhi abu.
Partikel abu vulkanik yang menempel pada permukaan kulit dapat menyebabkan rasa tidak nyaman hingga iritasi, terutama jika paparan berlangsung cukup lama. Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan ketika terjadi paparan abu vulkanik dianjurkan tidak hanya menggunakan masker, tetapi juga memberikan perlindungan pada kulit.
Kontak dengan abu dapat membuat kulit terasa kotor, kering, gatal, atau mengalami iritasi pada sebagian orang. Risiko tersebut dapat meningkat apabila seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama. Karena itu, mengurangi durasi paparan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan kulit.
“Kalau terpaksa keluar ruangan jangan lupa pakai baju lengan panjang,” ujar dr. Henie.
“Itu melindungi kulit kita juga karena paparan abu itu bisa mengiritasi kulit kita juga. Ke mata juga kan ini untuk lihat dunia luar ya, paparan abu itu bisa masuk mata dan menyebabkan iritasi juga,” lanjutnya.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kontak langsung dengan abu adalah menggunakan pakaian yang menutupi sebagian besar permukaan tubuh. Saat harus keluar rumah, gunakan baju lengan panjang dan celana panjang.
Bagian tubuh yang terbuka seperti leher juga sebaiknya ditutup bila kondisi lingkungan sangat berdebu. Perlindungan ini bukan berarti membuat seseorang sepenuhnya terbebas dari paparan, tetapi dapat membantu mengurangi jumlah abu yang langsung mengenai permukaan kulit.
Setelah kembali ke dalam ruangan, bersihkan tubuh untuk menghilangkan partikel abu yang menempel. Hindari menggosok kulit terlalu keras karena tindakan tersebut justru dapat memperparah iritasi. Bersihkan tubuh secara perlahan menggunakan air dan produk pembersih yang lembut.
Jika abu menempel pada wajah, bersihkan dengan hati-hati dan hindari mengucek area sekitar mata. Pakaian yang digunakan ketika berada di luar ruangan juga sebaiknya segera dibersihkan agar partikel abu tidak kembali menempel pada kulit.
Perlindungan kulit yang paling efektif tetap dimulai dengan mengurangi paparan. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, masyarakat sebaiknya berada di dalam ruangan ketika kondisi udara sedang dipenuhi abu vulkanik.
Bagi mereka yang harus bekerja di luar ruangan, penggunaan pakaian pelindung perlu disertai dengan pembatasan waktu berada di luar. Dengan kata lain, perlindungan dari abu vulkanik bukan hanya soal masker untuk pernapasan, tetapi juga bagaimana menjaga kulit dari kontak langsung dengan partikel abu.
“Memang sejauh ini masker itu yang direkomendasikan untuk yang terutama bekerja di luar ruangan. Sebaiknya memakai masker yang sudah kita rekomendasikan,” ujar dr. Henie.
“Tapi sebetulnya lebih utama lagi menghindari paparan abu vulkanik itu. Sebaiknya kita ada di dalam ruangan kalau kita enggak perlu-perlu banget. Kalau perlu banget bekerja dari luar sebaiknya pakai masker yang tertutup rapat, jenisnya ada yang N95, KN95, KF94,” lanjutnya.
“Selain itu kalau terpaksa harus keluar rumah, keluar ruangan, batasi waktu di luar ruangan itu. Makin lama di luar ruangan, pajanan terhadap debunya akan semakin banyak. Kemudian, jangan lupa pakai pengaman untuk mata, pakai kacamata. Nanti juga ada yang direkomendasikan kalau memang terpaksa pakai kacamata biasa,” tutupnya.
(Djanti Virantika)