Co-Parenting yang Sehat Setelah Berpisah: Tetap Menjadi Tim untuk Anak

Djanti Virantika, Jurnalis
Rabu 26 Agustus 2026 16:05 WIB
Co-parenting. (Foto: Freepik)
Share :

PERCERAIAN atau perpisahan pasangan tidak otomatis membuat seseorang berhenti menjadi orangtua. Hubungan sebagai suami dan istri mungkin telah berakhir, tetapi peran sebagai ayah dan ibu tetap berjalan. Di sinilah co-parenting menjadi penting.

Co-parenting adalah pola pengasuhan ketika dua orangtua yang sudah tidak lagi hidup sebagai pasangan tetap bekerja sama dalam membesarkan anak. Tujuannya bukan untuk mengembalikan hubungan seperti semula, melainkan memastikan anak tetap mendapatkan perhatian, kasih sayang, rasa aman, dan dukungan dari kedua orangtuanya.

Lantas, seperti apa co-parenting baik yang harus dibangun oleh orangtua yang berpisah? Psikolog klinis dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone memberikan kiat-kiatnya.

Hersa menjelaskan bahwa co-parenting tidak mengharuskan mantan pasangan kembali memiliki hubungan yang sangat dekat. Artinya, pasangan yang sudah berpisah tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat sangat akrab di depan anak jika memang hubungan tersebut belum memungkinkan. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya mampu membangun kerja sama yang sehat sebagai orangtua.

Layaknya sebuah tim, kedua orangtua tidak harus menjadi sahabat. Namun, mereka perlu memiliki tujuan yang sama dalam menjalankan peran sebagai ayah dan ibu.

“Co-parenting itu kan adalah teamwork. Dan teamwork itu untuk bekerja kan enggak harus yang akhirnya benar-benar sobat banget, jadi akur gitu. Itu enggak harus kayak gitu,” ujar Hersa.

2. Memiliki Tujuan dan Kesepakatan yang Sama

Untuk menjalani co-parenting yang baik, Hersa mengatakan bahwa orangtua juga perlu memiliki kesepakatan yang sama. Kunci dari co-parenting adalah adanya tujuan bersama.

Tujuan tersebut dapat dimulai dari kesepakatan sederhana. Misalnya, memastikan anak tetap mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua, tetap merasa aman, serta tidak menjadi korban konflik setelah perceraian.

Kedua orangtua juga dapat menyepakati berbagai hal yang berkaitan dengan pengasuhan, mulai dari pendidikan, kesehatan, jadwal bersama anak, hingga cara mengambil keputusan ketika muncul persoalan. Tidak berarti seluruh aturan di kedua rumah harus selalu sama. Namun, adanya nilai dan tujuan dasar yang disepakati akan membantu anak beradaptasi dengan kondisi keluarga yang baru.

“Teamwork itu akan bekerja saat akhirnya keduanya memiliki tujuan yang sama, punya visi-misi yang sama,” ucap Hersa.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya