“Sebab saat tidur kurang dari itu, tubuh kehilangan waktu untuk memulihkan diri, sehingga saluran napas lebih mudah teriritasi dan muncullah batuk, mengi, hingga sesak,” jelas dia.
Bukan hanya kurang tidur, kebiasaan tidur terlalu lama juga perlu diperhatikan. Menurut Prof. Erlina, durasi tidur yang berlebihan dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu atau adanya proses peradangan yang membuat tubuh tetap merasa lelah.
“Lalu bagaimana dengan yang tidurnya justru berlebihan? Ternyata itu pun bukan tanpa risiko. Tidur terlalu lama sering menandakan ada gangguan kesehatan atau peradangan tersembunyi di dalam tubuh, dan itulah sebabnya batuk serta sesak napas juga lebih sering ditemukan pada kelompok ini,” tambah Prof. Erlina.
Temuan tersebut kemudian menggambarkan pola hubungan berbentuk huruf U. Artinya, keluhan pernapasan cenderung lebih rendah pada orang yang memiliki durasi tidur cukup, tetapi meningkat pada kelompok yang tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama.
“Jadi, gejala pernapasan paling jarang muncul pada mereka yang tidurnya cukup, lalu meningkat pada dua sisi ekstremnya, yaitu yang terlalu sedikit dan yang terlalu banyak. Pola inilah yang dalam studi tersebut disebut pola U, rendah di tengah dan naik di kedua ujungnya,” papar dia.