"Dari jurnal ini kita belajar bahwa overthinking itu bukan cacat atau kekurangan, melainkan bisa jadi produk dari otak yang terbiasa menghasilkan analisis mendalam," ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemampuan berpikir secara mendalam tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan kecemasan yang baik. Dengan begitu, kemampuan kognitif yang dimiliki dapat diarahkan untuk hal-hal yang lebih produktif.
"Selama kecemasannya bisa dikendalikan, harusnya IQ yang relatif tinggi tersebut bisa diarahkan ke sesuatu yang lebih baik," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)