JAKARTA - Kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking kerap dikaitkan dengan kecemasan. Namun, sebuah penelitian yang dibagikan dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, menunjukkan adanya hubungan antara kecerdasan dan kecenderungan seseorang mengalami overthinking.
Bagi Generasi Z (Gen Z), istilah overthinking tentu sudah tidak asing. Kondisi ini menggambarkan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, termasuk hal-hal yang belum tentu terjadi, sehingga dapat memicu rasa cemas dan tidak tenang.
Dr. Adam menjelaskan, temuan tersebut merujuk pada penelitian berjudul The Relationship between Intelligence and Anxiety: An Association with Subcortical White Matter Metabolism.
"Apakah benar orang yang overthinking itu cenderung lebih cerdas? Ada penelitian menarik mengenai hal ini," tulis dr. Adam, dikutip Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, penelitian tersebut menemukan adanya keterkaitan antara skor IQ yang lebih tinggi dengan kecenderungan overthinking yang kemudian dapat berhubungan dengan munculnya kecemasan.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa orang dengan IQ lebih tinggi berasosiasi dengan kecenderungan untuk overthinking, yang berujung pada munculnya kecemasan atau anxiety," jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Adam menyebut penelitian itu juga membahas hubungan antara tingkat IQ dan gejala gangguan kecemasan. Salah satu kondisi yang dimaksud adalah generalized anxiety disorder atau gangguan kecemasan menyeluruh.
"Pada penelitian ini, gangguan kecemasan yang dimaksud adalah generalized anxiety disorder (gangguan kecemasan menyeluruh). Bagi mereka yang mengalaminya, semakin tinggi IQ, maka gejala cemas yang muncul cenderung semakin berat dan sering," tuturnya.
Secara biologis, hubungan tersebut dikaitkan dengan aktivitas zat choline di dalam otak yang berperan dalam proses tertentu yang berkaitan dengan kecemasan dan fungsi kognitif.
Berdasarkan temuan tersebut, dr. Adam menilai overthinking tidak selalu dapat dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari aktivitas otak yang mendorong seseorang melakukan analisis secara lebih mendalam.
"Dari jurnal ini kita belajar bahwa overthinking itu bukan cacat atau kekurangan, melainkan bisa jadi produk dari otak yang terbiasa menghasilkan analisis mendalam," ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemampuan berpikir secara mendalam tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan kecemasan yang baik. Dengan begitu, kemampuan kognitif yang dimiliki dapat diarahkan untuk hal-hal yang lebih produktif.
"Selama kecemasannya bisa dikendalikan, harusnya IQ yang relatif tinggi tersebut bisa diarahkan ke sesuatu yang lebih baik," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)