PRODUKSI air susu ibu (ASI) pada setiap ibu bisa berbeda-beda. Ada ibu yang ASI-nya sudah mulai keluar sebelum melahirkan, tetapi ada pula yang baru mengalami peningkatan produksi ASI pada hari ketiga setelah persalinan.
Lantas, apakah hal itu normal terjadi? Apakah ibu harus segera memberi susu tambahan berupa susu formula kepada bayinya?
Secara teori, bayi baru lahir memiliki cadangan energi berupa lemak cokelat (brown fat). Cadangan tersebut membantu bayi bertahan dalam beberapa waktu ketika asupan dari luar belum optimal.
Namun, bukan berarti bayi boleh dibiarkan tidak mendapatkan asupan selama tiga hari pertama. Kondisi setiap bayi harus dinilai secara medis, terutama karena tidak semua bayi memiliki kondisi dan cadangan energi yang sama.
“Jadi memang produksi ASI itu berbeda-beda setiap ibu. Ada yang mungkin dari sebelum ibunya melahirkan produksi ASI-nya sudah keluar, ada. Ada yang memang baru produksinya banyak itu di hari ketiga,” ujar dr. Mutiara.
“Secara teori, bayi itu memiliki lemak cokelat namanya brown fat. Itu lemak cadangan yang memungkinkan anak bayi bertahan selama 72 jam atau tiga hari tanpa dapat supply apa pun, misalnya ASI ataupun susu formula,” lanjutnya.
Kondisi bayi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Bayi prematur, misalnya, dapat memiliki cadangan lemak yang berbeda dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Begitu pula bayi yang mengalami masalah kesehatan setelah lahir, seperti sesak napas.
Karena itu, orangtua tidak dianjurkan mengambil kesimpulan bahwa semua bayi dapat melewati tiga hari pertama tanpa asupan tambahan.
“Jadi kita tidak boleh pukul rata, oh ini tiga hari pertama puasa, tidak bisa. Jadi semua itu memang harus penilaian medis dari dokternya,” tegasnya.
Jika bayi lahir cukup bulan, sehat, bugar, dan dapat menyusu dengan baik, ibu dapat terus memberikan ASI sambil menunggu produksinya meningkat dalam dua hingga tiga hari pertama. Namun, apabila bayi lahir prematur, sakit, harus menjalani perawatan, atau terdapat kondisi medis tertentu yang membuat pemberian ASI eksklusif belum memungkinkan, dokter dapat merekomendasikan pemberian asupan tambahan sesuai kebutuhan bayi.
Begitu pula jika kondisi ibu belum memungkinkan untuk memberikan ASI secara optimal. Pemberian bantuan asupan dapat dipertimbangkan berdasarkan penilaian tenaga medis.
Dengan demikian, orangtua tidak perlu merasa bersalah atau khawatir dianggap gagal memberikan ASI eksklusif ketika kondisi medis memang membutuhkan penanganan khusus.
“Namun kondisinya memang kita tidak bisa pukul rata ya, kadang ada bayi yang lahirnya premature nah itu pasti cadangan lemaknya berbeda juga dengan bayi mature. Atau ada juga memang kondisinya bayinya saat lahir sakit sesak napas seperti itu. Jadi kita tidak boleh pukul rata, oh ini 3 hari pertama puasa, tidak bisa,” ujar dr. Mutiara.
“Kalau memang memungkinkan, bayinya sehat bugar lalu disusui, menunggu 2-3 hari susu mamanya keluar tidak apa-apa. Tapi, kalau bayinya mungkin sakit, dirawat, premature, kita tidak bisa mempertahankan juga,” lanjutnya.
“Jadi misal dari orangtuanya atau kondisi medisnya belum mumpuni untuk memberikan ASI eksklusif, jadi bisa dibantu. Jadi kita tidak boleh menjudge anak itu jadi tidak asi eksklusif,” tutup dr. Mutiara.
(Djanti Virantika)