Viral Nakes Komentar Nirempati ke Pasien BPJS di Medsos, dr. Gia: Lebih Lelah Jadi Pasien!

Niko Prayoga , Jurnalis
Kamis 06 Agustus 2026 14:05 WIB
Nakes komentar nirempati ke pasien BPJS. (Foto: Threads)
Share :

VIRALNYA kasus oknum tenaga kesehatan (nakes) yang diduga berkomentar negatif dan dinilai nirempati pada salah satu unggahan pasien BPJS di media sosial mendapat sorotan dari banyak pihak. Salah satunya datang dari dokter sekaligus influencer kesehatan ternama di Indonesia, dr. Gia Pratama.

Dalam unggahan terbaru di akun Instagramnya, dr. Gia memberikan pesan khusus kepada seluruh rekan dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia terkait peristiwa tersebut. Dia juga memberi komentar dari sudut pandang pasien.

1. Nakes Komentar Nirempati ke Pasien BPJS

dr. Gia pun mengingatkan soal jas putih serta seragam rumah sakit yang dikenakan oleh para dokter dan tenaga kesehatan. Menurutnya, pakaian itu seharusnya menjadi penetral emosi.

Seragam itu mengingatkan diri segala rasa lelah, kecewa dan marah, serta berbagai tekanan dan tanggung jawab harus disikapi secara profesional. Sebab, dr. Gia menilai menjadi pasien lebih melelahkan daripada menjadi tenaga kesehatan.

“Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu Tidak Enak. Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti,” tulis dr. Gia, dikutip Kamis (6/8/2026).

2. Rumitnya Sistem Rumah Sakit dan BPJS

Di sisi lain, dr. Gia juga menyoroti pihak pasien yang tidak tahu-menahu soal rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS.

“Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan. Kita tahu semua itu. Tapi pasien kan enggak,” tambah dr. Gia.

“Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka,” ungkap dr. Gia.

dr. Gia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang tepat dan empati dari tenaga medis merupakan kunci utama dalam menenangkan ketakutan pasien.

“Sering kali, cukup kata-kata kita, ‘Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.’ Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang,” terang dia.

“Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit. Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran. Keduanya sama-sama berjuang,” beber dia.

“Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua. Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini,” sambung dr. Gia.

 

3. Komentar Negatif

Lebih lanjut, dr. Gia juga menyoroti terkait komentar negatif yang dilontarkan oknum tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS yang mengunggah keluhannya di media sosial. Ia tidak menampik beratnya beban kerja tenaga kesehatan. Kendati demikian, emosi negatif dan kelelahan tidak pernah bisa dijadikan pembenaran untuk bertindak melenceng dari etika profesi.

“Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut? Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?” ungkap dia.

“Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustasi adalah bagian dari hidup. Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi manapun,” tambah dr. Gia.

dr. Gia mengingatkan bahwa pasien merupakan salah satu rezeki bagi tenaga kesehatan. Bukan soal uang melainkan seberapa memiliki arti ilmu yang dimiliki para tenaga kesehatan.

“Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita. Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan. Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita,” tutur dia.

“Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala,” lanjut dr. Gia.

“Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita. Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu. Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan,” pungkas dia.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya