Lebih lanjut, dr. Gia juga menyoroti terkait komentar negatif yang dilontarkan oknum tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS yang mengunggah keluhannya di media sosial. Ia tidak menampik beratnya beban kerja tenaga kesehatan. Kendati demikian, emosi negatif dan kelelahan tidak pernah bisa dijadikan pembenaran untuk bertindak melenceng dari etika profesi.
“Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut? Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?” ungkap dia.
“Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustasi adalah bagian dari hidup. Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi manapun,” tambah dr. Gia.
dr. Gia mengingatkan bahwa pasien merupakan salah satu rezeki bagi tenaga kesehatan. Bukan soal uang melainkan seberapa memiliki arti ilmu yang dimiliki para tenaga kesehatan.
“Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita. Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan. Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita,” tutur dia.
“Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala,” lanjut dr. Gia.
“Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita. Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu. Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)