Tren Kualitas Tidur yang Baik: 8 Jam atau Berburu Deep Sleep?

Niko Prayoga , Jurnalis
Rabu 05 Agustus 2026 23:05 WIB
Tidur. (Foto: Freepik)
Share :

TREN kualitas tidur yang baik belakangan ini tengah banyak digandrungi masyarakat. Banyak yang semakin terobsesi dengan indikator tidur nyenyak (deep sleep).

Banyak orang berlomba-lomba mendapatkan durasi deep sleep sepanjang mungkin. Bahkan, tak jarang rela mengorbankan total jam tidur harian.

Namun, benarkah mendapatkan deep sleep lebih banyak dengan waktu tidur lebih singkat lebih menguntungkan bagi tubuh? Ataukah hal tersebut hanya mitos semata?

1. Deep Sleep

Edukator sekaligus pelatih dan pemilih tidur terkemuka Indonesia, Vishal Dasani, dalam unggahan video di akun Instagramnya memberikan gambaran terkait hal tersebut. Menurutnya, jika dibandingkan antara tidur 8 jam dengan deep sleep 1 jam, atau tidur 5 jam tetapi mendapatkan deep sleep hingga 2 jam, jawabannya adalah tidur selama 8 jam meskipun porsi deep sleep terukur lebih pendek.

“Beberapa hari lalu ada yang bertanya ke saya, 'Coach, mana nih yang lebih baik? Tidur delapan jam tapi deep sleep-nya cuma satu jam, atau tidur lima jam tapi deep sleep-nya dua jam?' Saya memilih tidur yang delapan jam tetapi deep sleep-nya cuma satu jam,” kata Vishal, dikutip Rabu (5/8/2026).

Vishal menjelaskan bahwa menganggap deep sleep sebagai satu-satunya fase penting dalam tidur adalah kekeliruan yang perlu diluruskan. Menurutnya, tubuh manusia memerlukan seluruh rangkaian siklus tidur secara utuh, bukan hanya berfokus pada satu fase saja.

“Kita tidak tidur hanya untuk mendapatkan deep sleep. Tubuh kita membutuhkan satu paket tidur yang lengkap. Ada light sleep, deep sleep, dan REM sleep-nya. Masing-masing punya porsi dan fungsi yang berbeda, tetapi mereka sama pentingnya dan saling melengkapi," jelas dia.

 

2. Pemulihan Fisik

Secara medis, deep sleep memang memegang peranan utama dalam pemulihan fisik dan regenerasi sel tubuh. Namun, fase tidur lainnya seperti Rapid Eye Movement (REM) sleep memiliki fungsi yang tak kalah krusial bagi otak dan kesehatan mental.

Vishal membeberkan bahwa siklus tidur manusia bergerak secara berkala sepanjang malam. Deep sleep umumnya lebih banyak terjadi pada awal malam, sedangkan fase REM sleep justru porsinya semakin panjang menjelang pagi hari.

“Deep sleep memang penting untuk pemulihan fisik, tetapi REM sleep juga penting untuk memori, proses belajar, kestabilan emosi, dan performa otak. Masalahnya, deep sleep lebih banyak terjadi pada awal malam, sedangkan REM sleep semakin panjang menjelang pagi," ujar Vishal.

Implikasinya, ketika seseorang sengaja memangkas waktu tidur menjadi hanya 5 jam, meskipun alat pemantau mencatat angka deep sleep yang tinggi, orang tersebut sebenarnya kehilangan sebagian besar porsi REM sleep yang seharusnya didapatkan menjelang pagi hari.

Dampaknya bisa berantai, mulai dari penurunan konsentrasi, memori yang melemah, hingga emosi yang mudah tidak stabil sepanjang hari.

Maka dari itu, Vishal mengimbau masyarakat tidak terjebak dalam tren kuantifikasi kesehatan yang justru memicu stres baru (orthosomnia). Ia menegaskan bahwa tidur bukanlah sebuah ajang kompetisi untuk mengejar skor tertentu.

“Artinya, saat Anda hanya tidur lima jam, meskipun angka deep sleep-nya terlihat bagus, bisa jadi Anda justru memotong sebagian REM sleep yang seharusnya didapatkan menjelang pagi hari. Tidur itu bukan kompetisi untuk mendapatkan deep sleep sebanyak-banyaknya. Yang kita cari adalah durasi yang cukup, siklus yang lengkap, dan saat bangun, tubuh dan pikiran benar-benar pulih," tutur dia.

Terakhir, Vishal mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan. Selain itu, konsistensi waktu tidur harian juga penting diperhatikan.

“Jangan sampai kita terjebak mengejar satu fase tidur, lalu kehilangan manfaat tidur secara keseluruhan," pungkas Vishal.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya