Secara medis, deep sleep memang memegang peranan utama dalam pemulihan fisik dan regenerasi sel tubuh. Namun, fase tidur lainnya seperti Rapid Eye Movement (REM) sleep memiliki fungsi yang tak kalah krusial bagi otak dan kesehatan mental.
Vishal membeberkan bahwa siklus tidur manusia bergerak secara berkala sepanjang malam. Deep sleep umumnya lebih banyak terjadi pada awal malam, sedangkan fase REM sleep justru porsinya semakin panjang menjelang pagi hari.
“Deep sleep memang penting untuk pemulihan fisik, tetapi REM sleep juga penting untuk memori, proses belajar, kestabilan emosi, dan performa otak. Masalahnya, deep sleep lebih banyak terjadi pada awal malam, sedangkan REM sleep semakin panjang menjelang pagi," ujar Vishal.
Implikasinya, ketika seseorang sengaja memangkas waktu tidur menjadi hanya 5 jam, meskipun alat pemantau mencatat angka deep sleep yang tinggi, orang tersebut sebenarnya kehilangan sebagian besar porsi REM sleep yang seharusnya didapatkan menjelang pagi hari.
Dampaknya bisa berantai, mulai dari penurunan konsentrasi, memori yang melemah, hingga emosi yang mudah tidak stabil sepanjang hari.
Maka dari itu, Vishal mengimbau masyarakat tidak terjebak dalam tren kuantifikasi kesehatan yang justru memicu stres baru (orthosomnia). Ia menegaskan bahwa tidur bukanlah sebuah ajang kompetisi untuk mengejar skor tertentu.
“Artinya, saat Anda hanya tidur lima jam, meskipun angka deep sleep-nya terlihat bagus, bisa jadi Anda justru memotong sebagian REM sleep yang seharusnya didapatkan menjelang pagi hari. Tidur itu bukan kompetisi untuk mendapatkan deep sleep sebanyak-banyaknya. Yang kita cari adalah durasi yang cukup, siklus yang lengkap, dan saat bangun, tubuh dan pikiran benar-benar pulih," tutur dia.
Terakhir, Vishal mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan. Selain itu, konsistensi waktu tidur harian juga penting diperhatikan.
“Jangan sampai kita terjebak mengejar satu fase tidur, lalu kehilangan manfaat tidur secara keseluruhan," pungkas Vishal.
(Djanti Virantika)