Teknologi AI hingga Pencitraan Modern Perkuat Deteksi Dini Kanker

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Kamis 30 Juli 2026 17:15 WIB
Teknologi AI hingga Pencitraan Modern Perkuat Deteksi Dini Kanker (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA – Deteksi dini menjadi salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker. Di tengah masih tingginya angka pasien yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut di Indonesia, perkembangan teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pencitraan medis kini mulai membantu dokter mengenali kanker lebih cepat dan menentukan penanganan yang lebih tepat.

Berdasarkan Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, setiap tahun terdapat sekitar 20 juta kasus kanker baru dan hampir 9,7 juta kematian akibat kanker di seluruh dunia. Sementara di Indonesia diperkirakan muncul lebih dari 408 ribu kasus baru dengan sekitar 242 ribu kematian setiap tahunnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker adalah masih banyaknya pasien yang baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat pilihan terapi menjadi lebih kompleks dan berpotensi menurunkan keberhasilan pengobatan.

Seiring perkembangan teknologi medis, pendekatan diagnosis kanker kini tidak lagi hanya mengandalkan pemeriksaan konvensional. Berbagai inovasi seperti AI, molecular imaging, dan precision oncology memungkinkan tenaga medis memperoleh informasi yang lebih rinci mengenai karakteristik penyakit sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, mengatakan bahwa investasi teknologi bukan semata menghadirkan perangkat terbaru, tetapi merupakan upaya memastikan setiap pasien memperoleh diagnosis dan terapi yang semakin akurat sesuai dengan kondisi penyakitnya.

"Perjalanan pasien kanker dimulai dari diagnosis yang tepat. Semakin akurat informasi yang diperoleh dokter sejak proses diagnosis, semakin besar peluang pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Karena itu, kami terus berinvestasi pada teknologi yang mendukung pengambilan keputusan klinis secara lebih presisi agar setiap inovasi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pasien," ujar Tries Nainggolan.

Teknologi AI di Bidang Kesehatan

Salah satu teknologi yang mulai digunakan adalah Positron Emission Tomography/Computed Tomography (PET/CT) yang dipadukan dengan AI. Teknologi ini mampu menghasilkan citra dengan resolusi tinggi sehingga membantu mendeteksi lesi berukuran kecil, menentukan stadium kanker secara lebih akurat, serta mengevaluasi respons pasien terhadap pengobatan.

Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, menjelaskan, kehadiran uMI Panvivo PET/CT menjadi langkah penting dalam memperkuat layanan precision oncology. Selain menghasilkan pencitraan berkualitas tinggi, uMi Panvivo PET/CT mendukung proses pemeriksaan yang lebih efisien melalui waktu pemindaian yang lebih singkat, sehingga pasien dapat menjalani pemeriksaan dengan lebih nyaman.

Selain PET/CT, terdapat pula teknologi Single-Photon Emission Computed Tomography/Computed Tomography (SPECT/CT) yang menggabungkan pencitraan fungsional dan anatomi. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai fungsi organ sekaligus mendeteksi kemungkinan penyebaran penyakit ke bagian tubuh lain.

Perkembangan juga terjadi pada teknologi spectral CT. Berbeda dengan CT scan konvensional yang berfokus pada struktur anatomi, spectral CT mampu menganalisis komposisi jaringan secara lebih mendalam. Kemampuan tersebut membantu tenaga medis membedakan jaringan normal dengan jaringan yang dicurigai sebagai kanker, sehingga mendukung proses diagnosis dan penentuan stadium penyakit.

Tak hanya untuk diagnosis, inovasi teknologi juga diterapkan pada prosedur minimal invasif melalui sistem angiografi berbasis AI. Teknologi ini membantu meningkatkan kualitas visualisasi selama tindakan medis, seperti pemasangan akses vaskular, biopsi berbasis pencitraan, hingga embolisasi, sekaligus membantu mengurangi paparan radiasi bagi pasien maupun tenaga kesehatan.

Meski teknologi terus berkembang, para ahli menegaskan bahwa perangkat canggih tersebut berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti dokter. Hasil pemeriksaan tetap harus diinterpretasikan oleh tenaga medis dengan mempertimbangkan kondisi klinis pasien secara menyeluruh.

Pemanfaatan AI dan teknologi pencitraan modern diharapkan dapat memperkuat upaya deteksi dini kanker, sehingga penyakit dapat dikenali sebelum berkembang ke stadium lanjut. Dengan diagnosis yang lebih cepat dan akurat, pasien memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan terapi yang sesuai serta meningkatkan kualitas hidup dan harapan kesembuhan.
 

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya