Komentar serupa juga ramai bermunculan dari pengguna media sosial lainnya.
"Gamau maafin, soalnya bikin sakit hati," tulis akun lain.
"mudah-mudahan Allah mengizinkan kamu seperti itu kak," tulis akun @e y a ????.
Kasus ini kembali memunculkan diskusi mengenai pentingnya sensitivitas dalam pembuatan konten digital. Banyak pihak menilai bahwa kondisi disabilitas dan gangguan kesehatan tidak seharusnya dijadikan bahan lelucon demi meraih perhatian atau meningkatkan interaksi di media sosial.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)