Penyebab Munculnya Fenomena Anak Lebih Nyaman Curhat ke AI, Tanda Kesepian?

Djanti Virantika, Jurnalis
Kamis 04 Juni 2026 23:05 WIB
Anak curhat ke AI. (Foto: Freepik)
Share :

FENOMENA anak dan remaja yang lebih nyaman bercerita kepada kecerdasan buatan (AI) atau chatbot dibandingkan kepada orangtua, guru, maupun teman dekat semakin sering ditemui. Hal ini pun jadi sorotan.

Kehadiran teknologi yang mampu merespons dengan cepat dan tersedia selama 24 jam memang membuat AI menjadi tempat baru bagi sebagian anak untuk mencari jawaban, dukungan, bahkan teman berbagi cerita. Lantas, apakah penyebab utama dari munculnya fenomena ini?

1. Fenomena Anak Lebih Nyaman Curhat ke AI

Psikolog Anak Remaja dan Keluarga, Sani Budiantini, S.Psi, Psi, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menilai kondisi tersebut tidak selalu buruk. AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana sementara untuk mencari informasi, menenangkan diri, atau membantu anak memahami perasaannya.

Namun, persoalan muncul ketika anak mulai menjadikan AI sebagai pengganti hubungan emosional yang seharusnya dibangun dengan orang-orang di sekitarnya. Menurut Sani, ada alasan mengapa sebagian anak merasa lebih aman bercerita kepada AI dibandingkan kepada manusia. Salah satu faktor utamanya adalah respons yang diterima saat mereka mengungkapkan perasaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit anak yang merasa langsung dihakimi ketika bercerita kepada orang tua atau orang dewasa. Alih-alih didengarkan, mereka justru mendapatkan kritik, penilaian, atau nasihat sebelum perasaannya dipahami.

Kalimat seperti "kamu terlalu berlebihan", "itu hal sepele", atau "jangan dipikirkan" mungkin terdengar biasa bagi orang dewasa. Namun bagi anak, respons tersebut dapat membuat mereka merasa tidak dimengerti.

Sebaliknya, AI dirancang untuk memberikan respons yang lebih empatik dan validatif. Ketika anak mengungkapkan kesedihan, kekecewaan, atau kecemasan, chatbot biasanya akan merespons dengan kalimat yang menunjukkan pemahaman terhadap emosi pengguna.

Respons seperti "saya mengerti perasaan kamu" atau "wajar jika kamu merasa seperti itu" membuat anak merasa didengar tanpa takut dihakimi. Inilah yang kemudian menciptakan rasa aman dan nyaman ketika mereka berinteraksi dengan AI.

“Sebenarnya AI itu gapapa kalau dipakai untuk sementara, untuk menenangkan sementara atau mencari informasi boleh-boleh banget. Tapi ketika anak merasa merasa sudah menggantikan bentuk emosional orangtua itu yang menjadi masalah,” ujar Sani.

“Itu kenapa sih? Ya ada penyebabnya juga. Kadang-kadang nih kita ngomong ke orangtua, orangtua langsung nge-judge, langsung menghakimi gitu kan. Enggak mau dengerin, enggak bisa ada di sisi pandang mana,” lanjutnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya