JAKARTA - Konsumsi daging kambing saat Idul Adha sering dikaitkan dengan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi. Tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa terlalu banyak makan olahan daging kambing bisa langsung memicu kenaikan tekanan darah.
Menurut dokter Adam Prabata, hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi daging kambing dalam jumlah wajar secara langsung menyebabkan hipertensi. Karena itu, anggapan bahwa makan daging kambing pasti membuat darah tinggi lebih dekat pada mitos.
Meski begitu, masyarakat tetap perlu memperhatikan cara pengolahannya. Pasalnya, penggunaan garam berlebihan saat memasak sate, gulai, atau tongseng justru menjadi faktor yang lebih berisiko meningkatkan tekanan darah.
Artinya, yang perlu diwaspadai bukan hanya dagingnya, tetapi juga bumbu dan pola konsumsi secara keseluruhan.
Mengonsumsi daging kambing dalam porsi cukup umumnya masih aman bagi kebanyakan orang. Namun, jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, risiko gangguan kesehatan seperti hipertensi dan penyakit jantung tetap dapat meningkat.
Di sisi lain, daging kambing sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik. Daging ini dikenal sebagai sumber protein hewani dengan kadar lemak dan kalori yang relatif lebih rendah dibanding beberapa jenis daging merah lainnya.
Karena kandungan lemaknya lebih sedikit, daging kambing juga kerap dianggap cocok untuk orang yang sedang menjaga berat badan atau menjalani pola makan sehat.
Selain protein, daging kambing mengandung zat besi dan vitamin B12 yang penting untuk membantu pembentukan sel darah merah dan menjaga kesehatan tubuh secara umum.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)