Di tengah situasi darurat, dr. Iqbal kemudian berkoordinasi dengan tim SAR dan tenaga medis lain untuk fokus pada korban yang masih hidup. Dengan tetap menekankan pentingnya pendekatan medis standar dalam kondisi trauma, dr. Iqbal berjuang keras untuk menyelamatkan 5 korban yang masih hidup.
“Akhirnya, pada saat teman-teman Basarnas sedang bekerja, saya fokus di 5 korban yang masih hidup. Sisanya kan berbeda meninggal. Jadi ada yang korban yang masih hidup, menduduki jenazah. Dia enggak bisa bergerak kan, kakinya terjepit,” ujar dr. Iqbal.
“Saya periksa tanda-tanda vital. Saya memanfaatkan teman-teman yang ada di sekeliling itu kan medis banyak. Perawat, dokter umum juga. Jadi saya minta tolong untuk kita kerjasama, kolaborasi,” lanjutnya.
“Pokoknya, enggak boleh meninggal di depan kita. Itu kan mungkin saya terbiasa di dunia trauma, di emergensi trauma. Di bedah kan kita memang doktrinnya seperti itu,” ujarnya.
Dalam kondisi yang sangat terbatas, tim medis juga melakukan tindakan anestesi untuk membantu proses evakuasi. dr. Iqbal mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memperlancar proses evakuasi tanpa mengganggu kerja tim SAR.
dr. Iqbal menegaskan bahwa seluruh tindakan di lapangan dilakukan dalam koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Basarnas dan Kementerian Kesehatan.
“Terakhir kan saya memutuskan, saya kasih obat-obatan yang keras kan, obat-obat bius yang sifatnya saya totalin, saya tidurin,” ungkapnya.
“Supaya enggak stress juga. Kalaupun nyeri, tentu masih ada rasa nyeri kadang-kadang, tapi minim. Sedangkan enggak teriak-teriak merontak yang mempermudah tim rescue,” jelas dr. Iqbal.
“Saya analisa dulu, assessment dulu, saya lihat, oke akhirnya saya masukin obat-obatan,” tutupnya.
(Djanti Virantika)