Kisah Heroik Dokter Emergensi di Balik Evakuasi Kecelakaan Kereta Bekasi Timur: Dari Waktu Keluarga hingga Medan Darurat

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 15 Mei 2026 06:05 WIB
dr Iqbal El Mubarak. (Foto: Okezone)
Share :

KISAH heroik dokter emergensi, dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB, di balik evakuasi kecelakaan Stasiun Bekasi Timur menarik diulas. Sebab, dia menghadapi momen-momen menegangkan selama proses evakuasi tersebut.

Bahkan, dr. Iqbal juga mengaku saat insiden terjadi, dirinya sedang berada dalam waktu istirahat bersama keluarga. Tetapi, dia meninggalkan itu semua demi membantu menyelamatkan nyawa para korban.

1. Kisah Heroik

Diketahui, beberapa waktu lalu, kecelakaan kereta api maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Tepatnya, kecelakaan terjadi pada Senin 27 April 2026 sekitar pukul 20.40 hingga 20.50 WIB.

Kecelakaan ini melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. Insiden ini mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka.

dr. Iqbal pun turut membantu evakuasi korban kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur. Dalam acara Morning Zone di channel Youtube Okezone, dr. Iqbal bercerita bahwa saat peristiwa kecelakaan kereta tersebut terjadi, dirinya tengah mengajak anak dan istri berjalan-jalan, selepas selesai bekerja di rumah sakit.

Namun, mendengar ada kecelakaan hebat di Stasiun Bekasi Timur lewat media sosial, dr. Iqbal langsung bergegas ke lokasi kejadian. Ia mengaku sempat ragu untuk datang ke lokasi karena kelelahan setelah bertugas, tetapi akhirnya memutuskan untuk tetap menuju lokasi.

“Saya waktu itu, pada saat peristiwa itu (kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur), saya lagi di mal. Jadi saya ngajak anak istri saya jalan-jalan. Lagi off duty. Baru selesai dari kerjaan rumah sakit, kemudian mau pulang, nah tanggung lah kan gitu kan. Karena anak-anak kan sorenya udah WA tuh nanya-nanya, ya jalan yuk, yah jalan yuk. Bosen nih di rumah,” ujar dr. Iqbal dalam program Morning Zone.

“Jadi sore itu pulang sampai di rumah, pas di parkiran, saya telepon istri saya kan, bawa anak-anak gitu. Jadi saya ajak. Saya pikir-pikir jalan-jalan ke mana ya, udah sore gini kan, saya juga capek sebenarnya kan. Mau pulang, mau tidur, mau istirahat, karena besok kan ada jadwal poli operasi lagi. Yaudah, saya paksain lah. Akhirnya kita putuskan ke mal AEON yang di Cakung Timur,” lanjutnya.

“Sekitar jam 10 lewat lah. Itu baru keluar dari mal, istri saya bilang, ngeliat di medsos ramai. Lagi live tuh kecelakaan besar kan, kereta api gitu. Nah jadi istri saya bilang, banyak banget korbannya nih katanya. Saya tanya lagi, udah berapa bun korbannya? Gak tau nih yah katanya. Belum kelihatan ini, tapi udah rame,” ungkapnya.

dr. Iqbal menambahkan bahwa keputusan muncul bukan hanya pertimbangan logika, tetapi juga dorongan emosional sebagai tenaga medis. Apalagi, dr. Iqbal sudah memiliki banyak pengalaman sebelumnya dalam membantu korban bencana dan bahkan peperangan. Hal itu turut dilakukannya di Gaza.  

“Kayaknya kecelakaan besar nih. Akhirnya dari situ saya juga mikir, ke sana enggak, ke sana enggak. Jujur capek banget. Tapi tiba-tiba tuh kayak di telinga harus ke sana. Sekarang juga ke sana, segera ke sana. Seperti ada yang membisiki,” ujar dr. Iqbal.

“Bahasanya, masa Gaza lu aja berangkat, ini ke Bekasi aja enggak sih? Kebetulan saya pernah ada kesempatan, Agustus 2025, saya ke Gaza,” lanjutnya.

Tantangan pun datang kala itu. Karena di titik berikutnya, dr. Iqbal kembali menghadapi pembatasan akses. Di dalam lokasi, situasi disebut sangat padat dan kacau dengan masyarakat serta tim evakuasi yang bekerja di berbagai titik. Kala itu, dr. Iqbal pun sempat dicegah untuk masuk ke lokasi kejadian dengan alasan sudah banyak tim medis.

“Pada saat sampai di keluar Tol Bekasi Timur, itu sudah terlihat sih, suasana udah sepi, karena udah mulai diblok-blok sama aparat. Sempat saya ketahan di baris pertama, saya buka kaca, saya bilang sama polisinya saya tim medis, mau ke dalam. Diizinkan,” ujar dr. Iqbal.

“Pas sampai ke dalam lagi, saya lihat udah ramai tuh di stasiun. Ambulans, kemudian radius 100 meter lah udah diblok. Jadi kita enggak bisa masuk mobil. Makanya saya putuskan, mobil saya pinggirin aja, dengan lampu hazard hidup,” lanjutnya.

“Saya bilang ke istri saya, tunggu instruksi saya pokoknya kamu dan anak-anak diem di mobil. Saya turun, lari langsung ke stasiun. Saya pikir nih, ada suatu hal yang kita bisa kerjakan lah,” ungkapnya.

“Masuk saya ke bawah, udah rame, udah kacau balau pokoknya. Masyarakat pun juga padat menghalangi jalan. Jadi kita bingung juga. Saya masuk, ke atas lantai dua itu, sempat ketahan lagi sama aparat. Enggak boleh masuk. Jadi saya izin, minta masuk, saya bilang saya tim medis, tapi enggak boleh. Udah penuh lah, udah rame tim medis, nanti aja katanya. Belum dibutuhkan lah, gitu kan. Wah, masa belum dibutuhkan sih,” sambungnya.

 

3. Kolaborasi Tim Medis dan Penanganan Korban

Di tengah situasi darurat, dr. Iqbal kemudian berkoordinasi dengan tim SAR dan tenaga medis lain untuk fokus pada korban yang masih hidup. Dengan tetap menekankan pentingnya pendekatan medis standar dalam kondisi trauma, dr. Iqbal berjuang keras untuk menyelamatkan 5 korban yang masih hidup.

“Akhirnya, pada saat teman-teman Basarnas sedang bekerja, saya fokus di 5 korban yang masih hidup. Sisanya kan berbeda meninggal. Jadi ada yang korban yang masih hidup, menduduki jenazah. Dia enggak bisa bergerak kan, kakinya terjepit,” ujar dr. Iqbal.

“Saya periksa tanda-tanda vital. Saya memanfaatkan teman-teman yang ada di sekeliling itu kan medis banyak. Perawat, dokter umum juga. Jadi saya minta tolong untuk kita kerjasama, kolaborasi,” lanjutnya.

“Pokoknya, enggak boleh meninggal di depan kita. Itu kan mungkin saya terbiasa di dunia trauma, di emergensi trauma. Di bedah kan kita memang doktrinnya seperti itu,” ujarnya.

4. Tindakan Darurat di Tengah Evakuasi

Dalam kondisi yang sangat terbatas, tim medis juga melakukan tindakan anestesi untuk membantu proses evakuasi. dr. Iqbal mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memperlancar proses evakuasi tanpa mengganggu kerja tim SAR.

dr. Iqbal menegaskan bahwa seluruh tindakan di lapangan dilakukan dalam koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Basarnas dan Kementerian Kesehatan.

“Terakhir kan saya memutuskan, saya kasih obat-obatan yang keras kan, obat-obat bius yang sifatnya saya totalin, saya tidurin,” ungkapnya.

“Supaya enggak stress juga. Kalaupun nyeri, tentu masih ada rasa nyeri kadang-kadang, tapi minim. Sedangkan enggak teriak-teriak merontak yang mempermudah tim rescue,” jelas dr. Iqbal.

“Saya analisa dulu, assessment dulu, saya lihat, oke akhirnya saya masukin obat-obatan,” tutupnya.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya