JAKARTA - Kita semua pernah berada di titik ketika emosi terasa begitu kuat, namun alih-alih mengekspresikannya, justru disimpan sendiri. Cara ini memang terlihat aman, seolah kita sedang menghindari konflik atau terlihat kuat. Padahal, kebiasaan memendam emosi justru bisa menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Coba ingat momen saat Anda tersenyum di tengah kesedihan, lalu tiba-tiba menangis karena hal kecil. Atau ketika menahan rasa kesal, namun akhirnya meledak karena hal sepele. Itu adalah contoh bagaimana emosi yang dipendam bisa muncul secara tidak terkontrol.
Intinya, memendam emosi membuat kita sulit menyampaikan kebutuhan dan menghambat hubungan yang sehat dengan orang lain. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik.
Ada banyak alasan seseorang memilih menekan perasaan. Mulai dari ingin segera melewati situasi, merasa emosi tidak penting, hingga ingin menjaga hubungan tetap berjalan baik.
Namun pada akhirnya, alasan utamanya sederhana: memendam emosi terasa lebih mudah dan aman.
"Alasan mengapa kita terkadang atau sering kali memendam emosi kita bisa bermacam-macam, tetapi semuanya tampaknya berakar dari rasa takut akan kerentanan. Karena rasa takut inilah, kita bereaksi melalui tindakan emosional yang melindungi diri," kata Dr. Colleen Mullen, PsyD, LMFT dilansir dari Verywell Mind.
Memendam emosi sering kali hanya memberikan rasa aman yang semu. Sebagian orang bahkan belajar sejak kecil bahwa mengekspresikan emosi bukanlah hal yang aman.
"Anak-anak itu bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang mengalami penindasan emosional," kata Dr. Mullen. "Penindasan, atau penghindaran, ekspresi emosional akhirnya terasa seperti takut ditolak, ditinggalkan, atau dinilai negatif."
Meskipun terlihat membantu dalam jangka pendek, memendam emosi justru bisa berdampak negatif dalam berbagai aspek kehidupan.
1. Memberikan Tekanan pada Kesehatan Mental
Mengabaikan perasaan secara terus-menerus dapat menurunkan rasa percaya diri. Seseorang bisa merasa tidak didengar, tidak dihargai, hingga kehilangan makna dalam hubungan sosial.
Kondisi ini juga bisa memicu stres, kecemasan, hingga Depresi yang semakin memburuk jika tidak diatasi.
2. Membahayakan Kesehatan Fisik
"Ada beberapa bukti bahwa memendam emosi dapat menyebabkan stres fisik pada tubuh," kata Dr. Mullen. "Stres yang ditimbulkan pada tubuh dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. Efek lainnya bisa berupa kesulitan mengingat."
Stres emosional yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi stres kronis, yang berdampak pada berbagai masalah kesehatan seperti gangguan pencernaan, nyeri otot, hingga penurunan daya tahan tubuh.
3. Menghambat Hubungan Sosial
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan koneksi dengan orang lain. Namun, hubungan sulit berkembang jika seseorang tidak terbuka secara emosional.
"Kontak antarmanusia dapat membantu menyeimbangkan sistem saraf kita dan memungkinkan perspektif yang lebih luas, melindungi kita dari terjebak dalam lingkaran ketakutan dan keyakinan yang salah," kata Shari Foos, MA, MFT, MS.
Yang terpenting, tanpa keterbukaan, seseorang sulit benar-benar dipahami dan diterima.
Tidak semua orang sadar bahwa dirinya sedang menekan perasaan. Beberapa tanda yang bisa dikenali antara lain:
Menurut Shari Foos, tanda lain juga bisa terlihat dari bahasa tubuh.
"Tanda-tanda seseorang sedang memendam emosi dapat dideteksi dari pilihan kata, nada suara, dan bahasa tubuh. Beberapa individu mungkin juga tanpa sadar melipat tubuh mereka ke dalam, meremas tangan, mengetuk jari atau kaki, melirik ke sana kemari, atau menggelengkan kepala," kata Foos.
Ia menambahkan, respons yang diberikan juga bisa terlihat tidak terbuka.
"Respons mereka ketika ditanya sesuatu yang mendasar seperti, 'ceritakan tentang dirimu,' mungkin beragam, mulai dari jawaban sederhana 'Saya tidak tahu,' hingga upaya untuk mengubah topik pembicaraan, menghentikan percakapan, atau bahkan meninggalkan ruangan."
(Kurniasih Miftakhul Jannah)