2. Mengejar validasi sosial
Tujuan utama sering kali bukan sekadar berbagi pengalaman, tetapi untuk mendapatkan pengakuan dari warganet melalui jumlah likes, komentar, atau jumlah penonton.
3. Kondisi finansial yang tidak stabil
Sebagian orang memanfaatkan fasilitas kredit, cicilan, atau paylater demi mempertahankan citra hidup mewah di media sosial.
4. Mengaku sebagai influencer atau pakar keuangan
Dalam beberapa kasus, ada pula individu yang membangun citra sebagai influencer sukses atau ahli investasi meskipun sebenarnya hanya mempromosikan gaya hidup konsumtif.
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya tren ini, salah satunya adalah efek demonstrasi atau demonstration effect. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terdorong meniru gaya hidup orang lain yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi, terutama yang dilihat di media sosial.
Selain itu, minimnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan juga berperan besar. Banyak orang belum menyadari pentingnya memiliki dana darurat, investasi, serta menghindari utang konsumtif.