JAKARTA - Kenapa Valentine dirayakan setiap tanggal 14 Februari? Hari Valentine diperingati setiap tahun pada 14 Februari sebagai perayaan global untuk menghormati cinta, kasih sayang, dan hubungan romantis.
Alasan mengapa Hari Valentine dirayakan pada tanggal tersebut berakar dari perpaduan tradisi Romawi kuno, kemartiran Kristen awal, serta kebiasaan romantis abad pertengahan. Secara historis, tanggal 14 Februari ditetapkan oleh Gereja Katolik pada abad ke-5 untuk memperingati Santo Valentine, seorang martir yang diyakini menikahkan pasangan secara diam-diam ketika pernikahan dilarang.
Seiring waktu, tanggal ini semakin erat dikaitkan dengan konsep cinta romantis, terutama pada abad ke-14 melalui karya-karya Geoffrey Chaucer. Dari situlah 14 Februari kemudian mengukuhkan posisinya sebagai hari perayaan cinta yang dikenal hingga saat ini.
Untuk memahami mengapa Hari Valentine jatuh pada 14 Februari, perlu menelusuri pengaruh pagan dan Kristen.
Sebelum Kekristenan menyebar luas di Eropa, bangsa Romawi merayakan festival kesuburan bernama Lupercalia yang berlangsung pada 13–15 Februari. Ritual ini mencakup upacara penyucian, pengorbanan di gua Lupercal (tempat Romulus dan Remus diyakini dibesarkan oleh serigala betina), serta tradisi undian pasangan. Para pemuda mengundi nama wanita untuk menjadi pendamping selama festival, dan dalam beberapa kasus berujung pada pernikahan.
Ketika Kekristenan semakin berkembang, para pemimpin gereja berupaya menggantikan festival pagan dengan perayaan Kristen. Pada tahun 496 M, Paus Gelasius I menetapkan 14 Februari sebagai Hari Valentine, bertepatan dengan masa Lupercalia.
Langkah ini bertujuan menguduskan tanggal yang sudah penting dalam budaya Romawi, sekaligus mengubahnya menjadi hari untuk menghormati nilai-nilai Kristen seperti cinta, pengorbanan, dan kesetiaan. Strategi ini membantu transisi dari tradisi pagan ke Kekristenan dan memperkuat penetapan 14 Februari sebagai simbol kasih sayang.