Thaipusam, Kisah Dewa Murugan Kalahkan Kejahatan 

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Minggu 01 Februari 2026 10:08 WIB
Thaipusam, Kisah Dewa Murugan Kalahkan Kejahatan. (Foto: Mei Sada Sirait/Okezone)
Share :

JAKARTA - Umat Hindu di wilayah Jakarta dan sekitarnya memperingati Hari Suci Thaipusam. Peringatan ini sebagai momentum sakral yang sarat makna spiritual dan filosofi kehidupan. 

Perayaan ini tidak hanya ritual keagamaan, namun juga menjadi pengingat atau ajaran untuk tidak menyakiti sesama makhluk. Ketua Dewan Pembina Murugan Temple, A.S. Kobalen menjelaskan, Thaipusam dirayakan setiap tahun berdasarkan perhitungan kalender Hindu, yakni pada bulan Thai dengan bintang Pusam yang merupakan zodiak Dewa Murugan. 

Momentum sejak Jumat (30/1/2026) ini juga berkaitan dengan peristiwa penting dalam mitologi Hindu, ketika Dewa Murugan berhasil mengalahkan raksasa Surapadman yang mengacaukan keseimbangan hingga ke alam dewa.

“Ini bukan sekadar cerita perang. Yang diajarkan adalah bagaimana kejahatan dilawan tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan. Yang dibasmi itu sifatnya, bukan orangnya,” jelas Kobalen di Murugan Temple, dikutip Minggu (1/2/2026). 

Dia menjelaskan kisah Dewa Murugan yang diciptakan oleh Dewa Siwa dengan kekuatan indra ketiga dan lahir di kolam Saravanabhava. Ia kemudian menerima tombak suci bernama Vel dari ibunya sebagai simbol kekuatan sakti. 

 

Saat menghadapi Surapadman, raksasa itu mengubah diri menjadi pohon raksasa. Namun dengan tombak Vel, pohon tersebut terbelah menjadi dua dan berubah menjadi merak dan ayam jago.

Dua simbol ini memiliki makna mendalam dalam perayaan Thaipusam. Merak dijadikan sebagai kendaraan Dewa Murugan, sedangkan ayam jago menjadi lambang bendera suci yang selalu dihadirkan dalam setiap hari raya besar.

Pesan yang disampaikan dalam peringatan ini adalah kejahatan boleh dihentikan. Namun yang dihancurkan adalah sifat buruknya, bukan manusianya.

“Pesannya jelas. Kejahatan boleh dihentikan, tapi jangan menghancurkan manusianya. Itu inti Ahimsa Dharma,” ujar Kobalen.

Kobalen mengatakan, ajaran ini relevan di masa sekarang karena menekankan untuk tidak membalas dendam atau menggunakan kekerasan. Namun hal yang ditonjolkan adalah pengendalian diri.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya