Yang membuat Inclusive berbeda dari brand lain adalah fokusnya pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui sistem afiliator. Para penyandang disabilitas dilatih agar bisa bekerja dari mana saja.
Mereka mendapatkan pelatihan public speaking, cara berjualan, hingga penggunaan teknologi. Menurut Angkie, perempuan bisa memiliki penghasilan tanpa harus bergantung pada perusahaan konvensional.
“Kami latih public speaking, cara jualan, hingga teknologi. Kalau membangun bisnis tujuannya hanya profit, kita akan cepat lelah,” tegasnya.
Brand yang dibentuk Angkie ini berkembang cepat meski baru berjalan selama tiga bulan. Bahkan komunitasnya sudah memiliki 3.000 anggota.
Dengan semangat “just be yourself”, ia menekankan bahwa Inclusive bukan untuk berkompetisi dengan brand lain. Angkie menjelaskan, dirinya tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan penyandang disabilitas agar dapat berkarya, percaya diri, dan mandiri secara ekonomi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)