KAUM emak-emak memang dianggap lebih julid ketimbang para bapak-bapak. Kisah emak-emak yang ngegosip memang tidak pandang kasta, dari mulai di tukang sayur, hingga sosialita di kafe-kafe.
Memang, saat ini perempuan bawel doyan julid menjadi hal yang wajar, kecuali jika mereka melanggar UU ITE di media sosial. Tapi, lain cerita dengan nasib perempuan bawel doyan julid di tahun 1700-an.
Pada tahun itu, jangan harap hidup Anda baik-baik saja setelah nge-julid-in seseorang. Ya, mereka yang doyan menghina, mencibir, mengumpat, berteriak sumpah serapah, maupun doyan ngomong akan mendapatkan hukuman yang sadis.
Adalah mulutnya dipasung. Hukuman ini pernah dialami oleh perempuan bernama Jane Wenham pada 1712. Alat pasung mulut bernama Scold's Bridle tersebut pun pernah dipajang di Museum of Witchcraft and Magic, Inggris.
"Alat pasung mulut awalnya berasal dari kastil Exeter, dipakai untuk tahanan wanita yang suka berteriak, mengumpat, atau meneriakkan pelecehan di malam hari. Alat itu sangat tidak nyaman saat dipakai," terang pendiri Museum Cecil Williamson, dikutip MNC Portal dari laman resmi museum, Kamis (13/10/2022).
Menurut sejarah, alat pasung mulut ini pertama kali dibuat pada 1380-an oleh Geoffrey Chaucer. Di tahun pertama pembuatannya, alat itu memang sudah ditujukkan untuk perempuan.
Sekalipun alat ini eksis di masyarakat, tapi tidak pernah menjadi hukuman yang diakui oleh undang-undang satu negara mana pun. Jadi, bisa dikatakan bahwa hukum memasung mulut bagi perempuan julid hanya bersifat hukum lokal.
Seorang perempuan yang mulutnya dipasung akan menjalani kehidupan yang memalukan sekaligus menyakitkan. Berapa lama alat pasung dipakai, itu tergantung dari 'hakim' lokal.
Ada banyak contoh penggunaan alat pasung mulut ini di zaman dulu. Misalnya pada 1699, seorang perempuan bernama Cecily Pewsill harus menggunakan pasung mulut karena suka marah-marah di tempat kerja.
Kemudian, Elizabeth, istri George Holborn dari Northumberland, pada 1741 pernah dipasung mulutnya selama 2 jam karena menghina dan merendahkan orang lain. Satu momen paling dramatis terjadi di 1789, alat pasung mulut dipakaikan ke perempuan di Lichfield karena dia terlalu 'berisik'.
Tak hanya dipasang pasung mulut, perempuan itu juga diarak warga keliling desa. Menurut sejarah, tidak ada satu orang pun yang membantu si perempuan, karena dia benar-benar tak disukai tetangga karena sangat bawel.
Sejarawan bernama James Sharpe sempat mengomentari tradisi hukuman sadis ini. Sharpe menilai bahwa penggunaan alat pasung mulut sangat diskriminatif pada perempuan di masa itu. "Di zaman itu, tercipta stigma bahwa wanita yang berisik dan suka bertengkar itu membahayakan orang lain," kata Sharpe.