Cerita mengenai orangtua, Dinda merasa beruntung memiliki keluarga yang tidak menyikapi masalah dengan sedih berlebihan. Dengan sikap yang demikian, Dinda mengaku dirinya bisa membangun diri dengan baik.
Ia menjadi pribadi yang tegar dan berani menggadapi dunia. Menyikapi masalah bukan dengan menghindari atau menangisinya saja, tetapi menghadapinya.
Selain orangtua, orang yang berperan penting dalam hidup Dinda adalah anak dan suaminya. Ada suatu cerita yang menarik bagi Dinda dan ini yang menyadarinya bahwa dirinya itu luar biasa.
"Jadi, suatu ketika anak aku cerita ada teman di kelasnya yang bertanya mata ibunya yang terlihat berbeda. Respons yang diberikan anakku kepada temannya cukup dewasa. Dia bilang ke temannya, ibu aku memang berbeda tapi bisa melihat seperti orang lain. Mama aku tidak malu atau minder," cerita Dinda mengingat kejadian tersebut.
Sikap sang anak bisa begitu karena Dinda memang memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya ke anak-anaknya. Jadi, anak-anaknya dikenalkan dengan dunia medis, tempat ibunya menjalani beberapa perawatan matanya. Ini berhasil dan malah membuat anaknya menyadari yang namanya perbedaan. Sementara itu, suaminya pun punya peran cukup kuat di hidup Dinda.
"Aku dan suami sudah saling kenal 20 tahun lamanya. Pernah suatu ketika aku tanya suami, kok mau nikah denganku? Dia jawab, aku nggak lihat kamu kenapa-kenapa. Kekurangan itu bukan sesuatu yang harus dipikirin, yang ada itu kelebihan apa yang harus kita kembangin," papar Dinda.
Adinda Tri Wardhani hingga kini masih menekuni profesinya sebagai jurnalis gaya hidup sejak 2005 dan kini menjabat sebagai managing editor lifestyle di suatu media digital perempuan.
Ia juga terus mengembangkan diri dengan merintis brand fashion 'Kala Studio' bersama kedua rekannya. "Memiliki kekurangan fisik membuat aku tidak berhenti untuk terus berkarya di dunia gaya hidup," tutup Dinda.
(Martin Bagya Kertiyasa)