Masa sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas dilalui Dinda dengan santai dan tidak terlalu rumit. Orangtuanya pun memisahkan Dinda dan kembarannya agar dia bisa mandiri dan berkembang sendiri-sendiri.
"Saat sekolah, aku aktif banget. Salah satunya aku tergabung di Indonesia Youth Orchestra, saat itu main biola. Bahkan, aku juga tergabung di klub cheerleader. Aku baru sadar, aku dari kecil memang doyan tampil banget, senang aja gitu," ungkapnya lantas tertawa kecil.
Jiwa energik Dinda tidak berhenti di bangku sekolah. Saat menentukan mau kuliah di mana, ia memutuskan untuk sekolah fashion di luar negeri. Dia sadar bahwa dunia fashion dan lifestyle itu bisa dibilang 'pemuja' kesempurnaan, tapi dia tak ragu untuk mengejar mimpinya. Benar, meski dengan mata kanan palsu.
Dinda ingat betul ucapan ibunya bahwa dunia fashion itu sangat luas sekali. Setelah mendengar itu, Dinda pun memutuskan untuk mengikuti internship di tiga bidang berbeda, yaitu konveksi, majalah fashion, dan ritel fast fashion di Malaysia.
Dari ilmunya di tiga bidang tersebut membuat dirinya yakin bahwa ia memang suka dunia fashion dan menjadikan bidang tersebut sebagai passionnya.
Passion tersebut ia tafsirkan dengan bekerja di salah satu majalah fashion terbesar di Indonesia. Majalah tersebut juga dianggap Dinda sebagai wadah tempatnya semakin membentuk karakter dirinya. Majalah itu yang membentuk ia sekarang.
"Aneh tapi nyata, tidak banyak rekan di kantor yang begitu menyadari bahwa aku berbeda di area mata, sampai di tahun ke-6. Jadi ada momen aku harus pergi dinas dengan chief editor aku, nah perjalanan dinas itu bertepatan dengan jadwal operasi, jadi mau gak mau harus bilang, dan minta izin untuk tidak ikut dinas," paparnya.
Hal itu yang membuat dirinya semakin yakin bahwa dengan bekal pengalaman dan kemampuan, itu akan menutupi kekurangan fisik yang ada di diri Anda. Ketika pengalaman dan kemampuan diri yang ditonjolkan, orang lain tidak akan melihat kekurangan tersebut.
"Ini sama dengan pandangan hidup aku bahwasannya jangan pernah mengedepankan apa kekurangan Anda, tapi tonjolkan kemampuan dan keahlian yang Anda punya. Itu yang akan membuat Anda terlihat istimewa di depan orang lain," katanya.
Sebagai orang yang memiliki perbedaan, jangan pernah playing victim atau merasa harus dikasihani. Ingatlah bahwa hidup Anda adalah milik Anda.
Dinda juga menegaskan agar setiap orang untuk bisa mandiri dan jangan mengandalkan orang lain. Meski berbeda, setiap orang jangan pernah berhenti untuk belajar dan cari keahlian baru.
Sekali lagi, ingat bahwa orang lain tidak melihat apa yang kurang dalam diri. Tapi akhirnya bakal terkesima dengan apa yang menjadi kekuatan diri Anda.