Punya Kelainan Mata Langka, Adinda Nekat Terjun ke Dunia Fashion

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Selasa 14 Januari 2020 14:30 WIB
Adinda Tri Wardhani. (Foto: Instagram)
Share :

Meski didiagnosa mengidap penyakit mata, sejak kecil Dinda sudah dibuat aktif oleh orangtuanya. Ia pernah bertemu dengan Sandiah atau yang lebih dikenal dengan Bu Kasur dan di pertemuannya itu, Dinda diajarkan makna perbedaan dan menghargai orang lain.

"Jadi, waktu itu aku sekelas dengan anak yang tidak punya tangan. Setelah duduk bareng, yang ada aku dan si anak itu nangis bareng," ucap Dinda. Setelah itu Dinda mengaku makin sadar bahwa dirinya tidak sendiri.

Setelah itu, ia bergabung dalam klub Nakula Sadewa, yang merupakan klub asuhan Kak Seto. Klub ini menjadi ruang untuk dirinya menyadari bahwa menjadi anak kembar itu bukan sesuatu yang aneh. Proses penerimaan perbedaan pun mulai dibentuk di sini.

"Kak Seto mengajarkan bahwa anak kembar itu dua individu yang berbeda, jadi jangan disama-samain," terangnya.

Dari pelajaran itu, orangtua Dinda yang awalnya memanggil Dinda dan kembarannya dengan panggilan mbak dan adik, kemudian berubah menjadi memanggil nama. Sejak saat ini, Dinda mulai terbangun kepercayaan dirinya.

Masih tergabung dalam klub Nakula Sadewa, Dinda pun dimasukkan ke taman kanak-kanak TK Mutiara Indonesia yang juga milik Kak Seto. Singkat cerita, di akhir tahun TK, saat itu usianya Dinda 5 tahun, momen pasang protesa pun tiba. Setelah pasang protesa, yang namanya tatapan aneh itu mulai berkurang.

Ibunya pun semakin mengeksplor kemampuan yang ada di dalam dirinya. Dinda yang sebelumnya sudah pernah les tari Bali di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan guru bernama Bapak Made, semakin percaya diri dengan banyak tampil di depan orang-orang.

"Aku sudah menari sejak belum pasang protesa. Kepercayaan diri aku sudah terbentuk sejak itu dan setelah pasang protesa, aku makin percaya diri," ungkap Dinda.

"Awalnya aku mengira, bagaimana bisa aku nari Bali yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan permainan mata. Tapi, ibuku punya tujuan sendiri ke tubuh aku yaitu agar otot mataku kuat. Namun, di sisi lain, ya, biar anaknya sering tampil di depan umum," tambahnya.

Di sisi lain, saat menggunakan mata palsu, Dinda mesti dihadapkan pada beberapa tindakan medis. Sebut saja operasi granuloma yang ia jalani pada 2004, 2012 dan 2014. Operasi ini dimaksudkan untuk membuang beberapa tumor kecil yang ada di area mata.

Hingga akhirnya pada 2017, Dinda menjalani cangkok mata kelopak bawah. Tindakan ini memerlukan jaringan tubuh dan tim medis menggunakan jaringan area pipi dan perutnya. Setelah itu, pada 2019, Dinda menjalani operasi kembali tapi kali ini operasi cangkok jaringan kelopak mata atas.

"Sejalannya usia, organ tubuh pun akan berubah dan aku sadar bagian mataku pun harus mendapatkan perlakuan khusus. Sehingga tindakan-tindakan itu memang sudah seharusnya dijalani dan saya lalui dengan bahagia," ucapnya dengan intonasi bahagia.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya