NANIURA mungkin belum setenar sushi atau sashimi, suguhan ikan mentah khas Jepang yang sudah mendunia. Namun Indonesia boleh berbangga karena sejak zaman dulu pun kita memiliki suguhan sejenis yang tidak kalah lezat bernama naniura.
Bagi Anda yang belum familiar dengan makanan tersebut, Naniura merupakan satu diantara sekian banyak kuliner khas nusantara yang cukup digemari berbagai kalangan. Makanan khas Batak ini berasal dari Tapanuli, sebuah daerah di sekitar Danau Toba.
Suguhan bagi para raja-raja dan simbol penyeimbang kehidupan
Naniura dulunya hanya disajikan untuk para raja saja, salah satunya adalah Raja Sisingamangaraja. Seiring berkembangnya zaman, makanan ini pun bisa dinikmati semua kalangan, mulai dari seluruh lapisan masyarakat keturunan Batak, dan juga para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Rahung Nasution mengatakan, naniura sebetulnya sudah ada sejak peradaban Suku Batak. Hidangan ini kerap disajikan untuk upacara atau ritual-ritual khusus suku tersebut.
"Suku batak percaya bahwa di kehidupan ini ada tiga dunia, tiga warna, tiga dewa, tiga struktur sosial. Dari kultur itulah muncul yang namanya tiga cita rasa khas yakni, asam, asin, dan pedas, sama seperti rasa naniura," kata pria kelahiran Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan ini ketika berbincang dengan Okezone melalui sambungan telepon, Senin 6 Februari 2017.
Lebih lanjut Rahung menjelaskan, kini naniura juga mulai disajikan dalam berbagai acara-acara seremonial seperti, pernikahan, kelahiran, dan kenduri atau selametan.
"Pokoknya dalam acara-acara kegemberiaan pasti ada naniura dan arsik (makanan tradisional yang juga terbuat dari ikan)," tambah pria yang tubuh dan wajahnya ditato ini.
A photo posted by Meganthropus Erectus (@rahungnasution) on Aug 14, 2015 at 5:42pm PDT
Matang karena porses pengasaman
Memang, dari segi pengolahan, naniura dibuat dengan teknik yang sangat unik yakni, dengan teknik pengasaman.
Rahung, pria yang sejak lama berkecimpung dalam dunia kuliner namun menolak dipanggil chef ini menjelaskan, untuk membuat naniura yang lezat diperlukan sejumlah bahan dasar utama, salah satunya adalah ikan air tawar.
"Kalau mau ngomongin keasliannya, naniura itu dibuat dari ikan sungai atau air tawar. Orang batak biasanya menggunakan ikan jurung atau ikan jelawat. Pokoknya harus ikan air tawar. Sekarang banyak yang menggunakan ikan mas," bebernya.
Setelah bahan utama tersedia, tahap selanjutnya adalah proses pengasaman. Masyarakat Batak biasanya menggunakan suatu jenis asam yang disebut asam jungga. Asam ini mirip dengan jeruk purut, namun tekstur dan ukurannya cenderung besar dan berbeda.
#goldfish#naniura#notcooking#cookby#lemonjungga#withspice#khasofbatak#food.
A photo posted by Melda Evi (@meldaevi) on Jan 6, 2017 at 7:25am PST
"Nah, proses pengasaman ini yang sangat unik, karena dimasak tidak menggunakan api sama sekali. Jadi setelah ikan dibelah menjadi dua bagian, lalu diberikan atau direndam dalam air perasan asam jungga selama kurang lebih 4-5 jam," jelas pria yang lebih suka disebut pencinta kuliner tradisional ini dan terlibat dalam Komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI).
Sambil menunggu ikan masak, siapkanlah bumbu olesan yang terdiri dari kunyit, bawang, lengkuas, jahe, cabai, kemiri yang telah disangrai, dan juga bumbu khas batak yakni, "andaliman".
"Jika ikan sudah dirasa masak, oleskan bumbu yang telah dihaluskan, lalu taburi kacang sebagai pelengkap. Hasilnya seperti dikukus, tekstur daging terasa lembut dan empuk," tuturnya.
Mempromosikan Indonesia, membawa naniura hingga ke dunia internasional
Seperti sushi berbahan daging ikan mentah atau sashimi, maka naniura layak diperkenalkan ke dunia internasional. Pakar kuliner William Wongso dan pemerintah pun membawa naniura, juga sejumlah kuliner tradisional lainnya, untuk diperkenalkan ke para pencinta kuliner di Paris, Perancis.
William atau yang akrab disapa Om Will tidak lupa membawa serta rempah-rempah asli Indonesia untuk kunci kelezatan naniura, seperti andaliman dan bunga kecombrang.
"Sensasi andaliman seperti szechuan pepper, sensasi baal seperti kesemutan, sedangkan bunga kecombrang untuk memberikan aroma," tulis William Wongso dalam pesan singkatnya kepada Okezone.
Tidak menanggalkan penggunaan rempah autentik khas Batak, namun Om Will mengganti penggunaan ikan menjadi udang. Bukan karena lebih praktis atau mengikuti selera lidah 'bule' Prancis, namun penggunaan udang lebih karena tema event di mana menggabungkan dengan bahan-bahan gastronomi Prancis. Membuktikan bahwa resep kuliner tradisional pun bisa diaplikasikan dengan bahan internasional. Rempah-rempah asli Indonesia bisa melezatkan bahan pangan luar negeri.
A photo posted by William W. Wongso (@williamwongso) on Feb 6, 2017 at 8:27am PST
"Saya pilih udang carbaneros dari Mediterranean yang biasa dimakan mentah dengan rasa manis tekstur legit. Dioles dengan bumbu naniura batak dengan rempah andaliman, memasak bahan gastronomi dengan sentuhan bumbu Indonesia," terangnya lagi. Lalu bagaimana tanggahan orang Prancis dengan kuliner ini, William Wongso menuliskan ikon oke sebanyak tiga kali.
Mendengar kuliner kampung halamannya go internasional, Rahung mengaku tidak heran namun juga senang. Menurutnya, naniura memang memiliki cita rasa yang hampir sama dengan beberapa hidangan khas Prancis.
"Saya tidak heran jika naniura bisa go international, karena Prancis itu juga memiliki tradisi menyantap ikan yang diasamkan (ceviche). Tinggal bagaimana kita memodifikasi hidangan tersebut agar lebih diterima oleh lidah-lidah 'mereka'," ujar Rahung.
Pria yang memiliki tato khas Suku Koita, Papua itu melanjutkan, naniura bisa dimodifikasi dengan mengganti jenis ikannya.
"Menurut saya jenis ikan yang cocok untuk diolah menjadi naniura itu ikan tuna atau salmon. Karena ikan tersebut lebih lembut dan juga mudah matang ketika melewati proses pengasaman," pungkasnya.
A photo posted by LapoSaroha (@laposaroha) on Aug 27, 2016 at 7:18am PDT
(Santi Andriani)