PERJUANGAN menurunkan berat badan kerap kali berfokus penuh pada pola makan ketat dan rutinitas olahraga yang berat. Namun, banyak orang tidak menyadari adanya faktor tersembunyi yang justru bisa menggagalkan semua usaha tersebut.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata dalam utas di akun Threads miliknya menyoroti pentingnya kualitas istirahat. Hal ini juga termasuk bagi orang yang sedang berjuang memangkas bobot tubuh.
“Kurang tidur adalah hal ‘tidak kelihatan’ yang perlu kita perbaiki bila mau menurunkan berat badan,” ungkap dr. Adam.

Pernyataan ini didasari oleh temuan ilmiah dari studi bertajuk Effects of Experimental Sleep Restriction on Energy Intake, Energy Expenditure, and Visceral Obesity. Menurut dr. Adam, kebiasaan begadang atau tidur yang terlalu singkat memiliki dampak langsung pada jumlah asupan kalori harian.
“Kurang tidur, yaitu hanya 4 jam sehari, itu berhubungan dengan peningkatan kalori yang kita makan, tanpa perubahan pada pengeluaran energi,” terangnya.
Kondisi tersebut berdampak signifikan pada penumpukan lemak, terutama di area yang paling dihindari banyak orang, yaitu perut. Jika kebiasaan kurang tidur ini terus berlanjut, dampaknya akan semakin nyata.
“Efeknya adalah lemak perut bisa naik 9-11% lebih tinggi, bila kurang tidur terus terjadi selama minimal 2 minggu,” tegas dr. Adam.