JAKARTA — Saat mata terasa kering, gatal atau iritasi, biasanya seseorang langsung meneteskan obat tetes sebagai pertolongan pertama. Penggunaan obat tetes mata dianggap praktis karena dapat memberikan rasa nyaman instan.
Namun, kebiasaan menggunakan obat tetes mata tanpa mengetahui penyebab keluhan ternyata bisa berdampak buruk bagi kesehatan mata dalam jangka panjang.
Melansir Times of India, dokter spesialis mata, dr. Priyanka Singh, mengingatkan bahwa tidak semua keluhan mata bisa ditangani menggunakan obat tetes yang sama.
Mata merah, kering, gatal, dan berair bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari alergi, infeksi virus atau bakteri, penggunaan lensa kontak, terlalu lama menatap layar, hingga sindrom mata kering.
Karena penyebabnya berbeda, obat tetes yang sebelumnya memberikan efek nyaman belum tentu cocok digunakan kembali untuk mengatasi keluhan yang baru.
Obat tetes untuk mata merah biasanya memberikan efek cepat sehingga mata terlihat lebih putih dan tidak terlalu merah. Namun, penggunaan berulang justru berisiko membuat kemerahan kembali muncul atau bahkan terlihat semakin jelas.
Menurut dr. Priyanka Singh, penggunaan produk tersebut secara terus-menerus juga dapat menyamarkan masalah kesehatan yang sebenarnya menjadi penyebab mata merah. Karena itu, obat tetes mata sebaiknya tidak digunakan hanya untuk menghilangkan kemerahan tanpa mengetahui penyebabnya terlebih dahulu.
Obat tetes mata yang mengandung steroid juga perlu digunakan dengan hati-hati dan tidak boleh menjadi pilihan untuk pengobatan mandiri. Penggunaan steroid tanpa pengawasan dokter dapat menyamarkan infeksi sekaligus memperburuk kondisi tertentu pada mata.
Jika digunakan secara tidak tepat atau dalam jangka panjang, obat tetes steroid juga dapat meningkatkan risiko glaukoma dan katarak.
Mata merah dan berair tidak selalu menandakan adanya infeksi bakteri. Keluhan tersebut bisa disebabkan oleh infeksi virus maupun alergi yang membutuhkan penanganan berbeda.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa antibiotik tidak efektif untuk mengatasi konjungtivitis yang disebabkan oleh virus.
Ujung botol obat tetes mata bisa terkontaminasi apabila menyentuh mata, jari, atau permukaan lainnya. Kondisi ini berisiko membuat produk tidak lagi steril.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyarankan pengguna untuk mencuci tangan sebelum memakai obat tetes mata dan menjaga agar ujung botol tidak menyentuh permukaan apa pun.
Selain itu, perhatikan tanggal pertama kali botol dibuka serta petunjuk penyimpanan dan batas penggunaan produk. dr. Priyanka Singh menyarankan agar tanggal pembukaan dicatat dan obat tidak digunakan kembali setelah satu bulan, dengan tetap mengikuti ketentuan khusus dari masing-masing produk.
Obat tetes mata tidak sepenuhnya harus dihindari. Produk pelumas atau air mata buatan tetap bisa digunakan untuk mengatasi mata kering, terutama jika memang direkomendasikan oleh dokter.
Namun, jika mengalami mata merah yang tak kunjung membaik, nyeri, sensitif terhadap cahaya, keluar cairan, penglihatan kabur, atau iritasi yang berulang, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.