
Kerusakan pada organ ginjal membuat kemampuan tubuh dalam mengontrol keseimbangan kadar elektrolit dan keasaman darah menjadi terganggu. Dampaknya, anak rentan mengalami ketidakseimbangan nutrisi dan senyawa penting dalam tubuh.
“Yang ketiga adalah gangguan elektrolit dan asam basa akibat gangguan proses pengaturan elektrolit dan asam basa di ginjal anak yang bermasalah ya. Jadi anak bisa mengalami hiperkalemi, kemudian bisa mengalami hiponatremi, kemudian juga asidosis metabolik,” terang dr. Reza.
Penyakit ginjal kronik juga berdampak langsung pada struktur tulang dan pertumbuhan fisik anak. Hal ini terjadi karena ginjal memegang peranan kunci dalam proses metabolisme vitamin D serta pengaturan kadar kalsium dan fosfat.
“Yang keempat adalah gangguan mineral tulang dan juga pertumbuhan pada anak. Yang ternyata ginjal ini juga berfungsi untuk metabolisme vitamin D, sehingga apabila ini terganggu, maka nanti kadar vitamin D aktifnya akan menurun, penyerapan kalsium di usus akan menurun, belum lagi pada anak dengan penyakit ginjal tahap akhir fosfatnya juga naik, nanti berpengaruh ke hormon paratiroid,” ungkap dia.
Ia menambahkan, mekanisme rumit tersebut pada akhirnya berdampak langsung pada kekuatan tulang anak serta pertumbuhan fisiknya.
“Kompleks mekanismenya ya, tapi nanti akan menyebabkan tulang anak itu bermasalah, jadi kepadatannya itu akan menurun dan juga dapat menyebabkan perawakan pendek pada anak dengan penyakit ginjal kronik tahap akhir,” tambah dr. Reza.
Komplikasi tak kalah fatal yang patut diwaspadai adalah penurunan fungsi jantung pada anak. Akumulasi dari kondisi hipertensi yang tak tertangani, kelebihan cairan kronis, hingga anemia berpotensi melemahkan kemampuan otot jantung untuk memompa darah.
“Kemudian yang terakhir adalah penyakit masalah jantung, yaitu kita sebut sebagai kardiomiopati dilatasi ya. Kontraksi otot jantungnya itu akan melemah. Dan ini merupakan efek akumulasi dari berbagai penyebab. Bisa jadi karena hipertensi yang tidak ditangani, kelebihan cairan dalam jangka waktu yang panjang, kondisi anemia, kondisi hiperkalemi, ini juga bisa menyebabkan menurunnya fungsi jantung pada anak,” tegas dia.
Mengingat kompleksnya potensi komplikasi yang dapat terjadi, dr. Reva mengimbau para orang tua dan tenaga medis untuk memberikan penanganan dini dan pemantauan secara menyeluruh bagi anak yang terdiagnosis penyakit ginjal kronik.
“Untuk itu, anak dengan penyakit ginjal kronik harus ditatalaksana secara komprehensif untuk melihat ya berbagai kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi pada anak tersebut,” pungkas dr. Reza.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.