TREN olahraga lari yang semakin populer, termasuk melalui berbagai ajang lari di Jakarta dan sekitarnya, membuat masyarakat perlu memahami risiko kesehatan yang dapat terjadi selama berolahraga. Salah satunya adalah heatstroke atau sengatan panas, kondisi serius ketika tubuh gagal mengendalikan suhu dan mulai mengalami gangguan fungsi organ.
Heatstroke kerap dikaitkan dengan aktivitas di bawah terik matahari. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi saat seseorang berlari pada pagi hari, bahkan ketika cuaca masih terasa sejuk.
dr. Muhammad Habibi Nst Sp.An-TI, Anestesiologi dan Terapi Intensif, yang turut bertugas pada saat Jakarta Running Festival 2026 berlangsung, menjelaskan bahwa risiko heatstroke tidak hanya ditentukan oleh suhu udara. Intensitas olahraga, kelembapan, kemampuan tubuh membuang panas, serta kondisi fisik pelari turut berperan.
Heatstroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu ekstrem disertai gangguan sistem saraf pusat. Kondisi ini dapat muncul ketika mekanisme tubuh untuk membuang panas tidak mampu mengimbangi panas yang dihasilkan selama beraktivitas.
Suhu tubuh pada heatstroke umumnya mencapai 40 derajat Celsius atau lebih. Gejala yang menyertainya dapat berupa pusing, kebingungan, perubahan perilaku, penurunan kesadaran, hingga kejang.
“Jadi, heatstroke ini merupakan suatu gejala yang diakibatkan karena respons tubuh yang gagal. Sistem tubuh gagal untuk membuang panas dari tubuh secara cepat,” ujar dr. Habibi dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone.
“Salah satu ciri utama heatstroke adalah peningkatan suhu tubuh yang umumnya mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, disertai gangguan fungsi sistem saraf. Gejalanya bisa berupa pusing, mata berkunang-kunang, gelisah, kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kejang,” lanjutnya.
dr. Habibi menegaskan bahwa gangguan kesadaran menjadi salah satu tanda penting yang harus diwaspadai. Karena itu, pelari tidak boleh mengabaikan perubahan kondisi tubuh ketika sedang mengikuti perlombaan.
Banyak orang memilih berlari pada pagi hari karena suhu udara cenderung lebih rendah dibandingkan siang hari. Meski demikian, waktu berolahraga bukan satu-satunya faktor yang menentukan risiko heatstroke.
Ketika mengikuti perlombaan, pelari sering kali berusaha mencapai target waktu tertentu sehingga meningkatkan kecepatan dan memaksakan kemampuan fisik. Intensitas olahraga yang tinggi membuat otot menghasilkan panas lebih banyak.
Dalam kondisi normal, tubuh akan berusaha membuang panas tersebut melalui peningkatan aliran darah ke kulit dan produksi keringat. Namun, mekanisme ini dapat kewalahan ketika panas yang dihasilkan tubuh terlalu besar atau pelepasan panas tidak berjalan efektif.
dr. Habibi mengibaratkan tubuh seperti mesin mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Semakin keras mesin bekerja, semakin banyak panas yang dihasilkan. Tubuh pun membutuhkan mekanisme pendinginan yang memadai agar suhunya tetap terkendali. Masalah dapat muncul ketika pelari terus memaksakan diri meskipun tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau kepanasan.
“Lalu, apakah heatstroke bisa terjadi ketika kita berlari pada pagi hari saat cuaca masih sejuk? Jangan salah, ada banyak faktor yang dapat memengaruhi terjadinya kondisi ini,” jelas dr. Habibi.
“Pertama, ketika kita berlari, tubuh menghasilkan panas, terutama dari aktivitas otot. Kondisi ini bisa diibaratkan seperti mesin mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Semakin keras mesin bekerja, semakin banyak panas yang dihasilkan,” lanjutnya.
“Hal yang sama terjadi ketika kita mengikuti perlombaan lari. Adrenalin meningkat, apalagi jika kita memiliki target waktu untuk mencapai garis finis. Banyak pelari yang akhirnya memaksakan diri atau push the limit demi mencapai target tersebut,” jelas dr. Habibi.
“Ketika intensitas lari meningkat, otot menghasilkan lebih banyak panas. Dalam kondisi normal, tubuh akan berusaha membuang panas tersebut melalui peningkatan aliran darah ke kulit dan mekanisme pengeluaran keringat,” sambungnya.
“Jantung bekerja lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Aliran darah ke kulit juga meningkat agar panas dapat dilepaskan ke lingkungan. Kulit ini bisa kita ibaratkan seperti radiator pada mobil yang berfungsi membantu membuang panas,” tuturnya.