VITAMIN C dan vitamin E merupakan dua nutrisi penting yang dikenal memiliki sifat antioksidan. Keduanya berperan membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, yaitu molekul tidak stabil yang dapat terbentuk secara alami selama proses metabolisme maupun akibat paparan lingkungan.
Radikal bebas dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan stres oksidatif, yakni kondisi ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Stres oksidatif dikaitkan dengan kerusakan sel dan berperan dalam proses penuaan serta perkembangan berbagai penyakit kronis.
Untuk membantu menjaga keseimbangan tersebut, tubuh membutuhkan asupan antioksidan yang cukup, termasuk vitamin C dan E. Meski memiliki fungsi yang saling melengkapi, keduanya bekerja dengan cara berbeda.

Dilansir dari Arthritis, Selasa (20/10/2026), vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air dan dibutuhkan untuk berbagai fungsi tubuh. Selain berperan sebagai antioksidan, vitamin ini membantu pembentukan kolagen, mendukung penyembuhan luka, serta meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan nabati.
Sebagai antioksidan, vitamin C membantu menetralkan radikal bebas di lingkungan berair dalam tubuh, termasuk di dalam cairan sel. Vitamin C juga berperan membantu meregenerasi vitamin E yang telah digunakan dalam proses perlindungan antioksidan.
Tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri. Oleh karena itu, kebutuhan vitamin ini perlu dipenuhi melalui makanan sehari-hari.
Beberapa sumber vitamin C alami antara lain jeruk, lemon, dan jeruk bali. Lalu, vitamin C juga bisa ditemukan di jambu biji, stroberi, kiwi, pepaya, paprika, brokoli, dan sayuran hijau lainnya.
Kandungan vitamin C dapat berkurang akibat pemanasan dan penyimpanan yang terlalu lama. Mengonsumsi buah segar serta memasak sayuran dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat membantu mempertahankan kandungan nutrisinya.
Sementara itu, vitamin E merupakan kelompok senyawa yang larut dalam lemak, termasuk tokoferol dan tokotrienol. Bentuk yang paling banyak dipelajari dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia adalah alfa-tokoferol.
Berbeda dengan vitamin C, vitamin E terutama membantu melindungi membran sel yang kaya lemak dari kerusakan akibat reaksi oksidasi. Vitamin ini membantu menghentikan reaksi berantai radikal bebas yang dapat merusak komponen lemak pada membran sel.
Peran tersebut penting karena membran sel membantu menjaga struktur dan fungsi sel. Vitamin E juga bekerja bersama sistem antioksidan tubuh lainnya untuk mempertahankan keseimbangan oksidatif.
Sumber vitamin E yang dapat ditemukan dalam makanan meliputi kacang almond dan hazelnut. Lalu, vitamin E juga bisa ditemukan di biji bunga matahari, minyak biji bunga matahari dan minyak nabati tertentu, kacang tanah, bayam dan sayuran hijau, hingga alpukat.
Vitamin E umumnya lebih mudah diserap tubuh ketika dikonsumsi bersama makanan yang mengandung lemak.